Monday, May 08, 2006

Sistem organisasi dan Penyelenggaraan Kurikulum


Sistem organisasi dan Penyelenggaraan Kurikulum
oleh : Ode Aburrchman. dkk

Organisasi kurikuluam adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Struktur program ini merupakan dasar yang cukup esensial dalam pembinaan kurikulum dan berkaitan erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai. Ada dua struktur yang dikembangkan dalam pengorganisasian dan penyelenggaraan kurikulum, yaitu struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berkaitan dengan masalah pengorganisasian atau penyusunan materi yang akan ditransformasikan kepada peserta didik dalam pola atau bentuk tertentu.
Sedangkan struktur vertical berhubungan dengan system-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah, yang antara lain meliputi pengaturan kelas dan alokasi waktu.
Tulisan ini mengurai tentang komponene-komponen yang terkandung pada masing-masing struktur program horizontal dan vertical.
Struktur Horisontal
Struktur horizontal dalam pengorganisasian kurikulum merupakan suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan diberikan pada peserta didik. Sejak permulaan abad ke-20 terutama di Amerika serikat muncul beberapa organisasi kurikulum yang baru sebagai reaksi terhadap organisasi kurikulum subject matter, yang merupakan organisasi kurikulum yang paling tua. Pertentangan muncul antara subject matter curriculum dengan lawannya yaitu activity curriculum. Dalam dunia pendidikan dikenal ada tiga jenis pola organisasin kurikulum, yakni: subject curriculum, activity curriculum, dan core curriculum. Dalam prakteknya tidak pernah dijumpai satu bentuk kurikulum yang murni melainkan terdapat modifikasi dari ketiga pola tersebut.
Setiap organisasi kurikulum ditandai oleh ciri-ciri khusus yang membedakannya dari organisasi yang lain. Disamping cirri-ciri tersebut, setiap organisasi memerlukan sarana dan perangkat yang berbeda pula.
Pelaksanaan kurikulum dipengaruhi dan bergantung kepada banyak factor terutama sarana belajar, guru, pimpinan pendidikan (kepala sekolah), dan orang tua peserta didik.
Subject Matter Curriculum
Subject matter curriculum merupakan organisasi kurikulum yang tertua dan banyak digunakan di berbagai negara. Subject matter curriculum adalah organisasi materi pendidikan dalam bentuk mata-mata pelajaran yang disajikan dan diberikan kepada peserta didik secara terpisah. Mata-mata pelajaran itu biasanya berupa pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan logis yang diberikan sesuai ndengan jenjang-jenjang tertentu.
Ciri-ciri :
Mata pelajran yang diklasifikasikan sesuai dengan bidang keilmuan/pengetahuan ilmiah.
Memberikan tekanan pada isi dan teknik memberikan pelajaran
Mata pelajaran umumnya bersifat konstan dan tidak banyak perubahan, meskipun perkembangan ilmu pengetahuan mengalami peningkatan
Perencanaan program pengajaran disusun terlebih dahulu
Untuk mengembangkan subject matter curriculum yang optimal, diperlukan beberapa sarana, baik personel, material, dan fasilitas lainnya.
S. Nasution mengklasifikasi bentuk subject matter curriculum menjadi tiga, yaitu Separate subject curriculum, correlated subject curriculum, dan integrated subject curriculum. Bentuk ketiga ini ternyata sama dengan activity curriculum yang dimaksudkan oleh Nana Sudjana.
Separate subject curriculum
Kurikulum ini menyajikan materi pelajaran dalam bentuk subyek-subyek tertentu yang terpisah-pisah. Kurikulum yang disusun dalam bentuk terpesah-pisah ini lebih bersifat subject centered, yaitu berpusat pada bahan pelajaran, dari pada child centered, yang berpusat pada minat dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum bentuk ini disusun berdasarkan pandangan ilmu jiwa asosiasi, yaitu mengharapkan terjadinga kepribadian yang bulat berdasarkan potongan-potongan pengetahuan.
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan pada separate subject kurikulum ini.
Kelebihan kurikulum ini antara lain :
Bahan pelajaran dapat disampaikan secara logis, sistematis dan berkesinambungan
Organisasinya sangat sederhan, mudah direncanakan, mudah dilaksanakan, dan mudah pula diadakan perubahan.
Kurikulum ini mudah dievaluasi, untuk selanjutnya diadakan perbaikan seperlunya.
Memudahkan guru untuk menyampaikan materi, karena guru hanya dibebani menyampaikan materi-materi tertentu yang sesuai dengan kompetensinya saja.
Adapun kelemahan kurikulum ini antara lain:
Kurikulum ini memberikan pelajaran secara terpisah-pisah yang tidak ada hubungannya dengan materi lain sehingga penguasaan peserta didik atas materi merupakan sesuatu yang lepas antara satu dengan lainnya.
Kurikulum ini kurang mengakomodasi minat dan bakat peserta didik.
Kurikulum ini cenderung statis karena sudah direncanakan terlebih dahulu.
Kurikulum ini hanya mengembangkan ranah kognitif, dan kurang memperhatikan ranah afektifnya.
Correlated Subject curriculum
Kurikulum ini berusaha menghubungkan antara dua mata pelajaran atau lebih, sehingga diharapkan peserta didik akan memperoleh pengetahuan yang utuh dan tidak sepotong-potong seperti pada separate subject curriculum, misalnya menghubungkan antara matematika, fisika, kimia dan biologi yang semuanya tergolong dalam IPA; menghubungkan antara sejarah, ekonomi, dan ilmu social yang memang termasuk dalam IPS.
Kurikulum ini juga mempunyai kelemahan, di samping banyak kelebihan yang dimiliki.
Kelebihan kurikulum ini antara lain:
Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran, sehingga dapat menopang kebulatan pengalaman dan pengetahuan peserta didik.
Adanya kemampuan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan secara fungsional, karena mereka dapat memanfaatkan korelasi antar mata pelajaran untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.
Adapun kekurangan kurikulum ini adalah:
Kurikulum ini, sebagaimana separate sumject curriculum, juga belum menyentuh aspek emosi.
Penggabungan beberapa mata pelajaran yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam
Integrated Curriculum
Kurikulum ini benar-benar menghilangkan batas di antara berbagai mata pelajaran. Keseluruhan mata pelajaran dilebur menjadi satu dan disajikan dalam bentuk unit. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran, diharapkan dapat terbentuk kebulatan pengetahuan peserta didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnnya. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus disesuaikan dengan situasi, masalah, dan kebutuhan kehidupan di luar sekolah.
Kelebihan kurikilum ini antara lain:
Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan dan minat anak.
Kurikulum ini memungkin danya hubungan saling menguntungkan antara sekolah dengan masyarakat, karena masyarakat menjadi laboratorium bagi peserta didik.
Kelemahan kurikulum ini antara lain:
Tidak mempunyai organisasi yang logis dan sistematis
Pelaksanaannya membutuhkan prasarana yang harus lengkap
Sulit diadakan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaannya
Activity Curriculum
Kurikulum ini sama dengan integrated subject curriculum, yang menekankan pada aktivitas dan pengalaman peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Ada tiga ciri kurikulum ini yang membedakan dengan kurikulum yang lain, diantaranya:
Program kegiatan pembelajaran di sekolah ditentukan oleh perhatian dan tujuan anak.
Tidak ada perencanaan terlebih dahulu, karena materi disesuaikan dengan minat peserta didik.
Metode yang paling dominant dalam pengajarannya adalha problem solving.
Adanya program khusus untuk mel;ayani peserta didik yang mempunyai minat khusus.
Guru yang mengajar harus mempunyai pengetahuan yang luas, khususnya tentang perkembangan anak
Tidak ada urutan tingkatan dan kelas
Perencanaan dan proses pembelajaran tidak terikat oleh waktu.
Core Curriculum
Core curriculum (kurikulum inti) muncul atas dasar pemikiran bahwa pendidikan memberikan tekanan pada dua aspek yang berbeda, yakni:
Adanya reaksi terhadap mata pelajaran yang terpisah-pisah yang mengakumulasi bahan pelajaran. Karena permasalahan inilah sehingga perlu mengorganisasi mata pelajaran dalam satu inti yang mengandung banyak bahan pelajaran yang diharapkan dapat memperkaya isi mata pelajaran dengan makna yang lebih luas.
Perubahan konsep mengenai peranan social pendidikan di sekolah. Di dalam masyarakat yang semakin terbagi-bagi dan terfragmentasi, perlu adanya program pendidikan yang menekankan kepada usaha mempertahankan nilai-nilai umum dan perspektif social yang dianut bersama.
Struktur Vertikal
Struktur vertical berhubungan dengan masalah system-sistem penyelenggaraan kurikulum sekolah, yaitu apakah kurikulum itu dijalankan dengan system kelas atau tanpa kelas, system unit waktu yang digunakan, dan masalah pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi (dan pokok bahasan) pada tiap tingkat.
Penyelenggaraan kurikulum melalui system kelas dan tanpa kelas
Sistem Kelas
Kurikulum ini menuntut dilaksanakan melalui ke;as-kelas tertentu, yaitu dari kelas I sampai kelas VI untuk sekolah dasar dan tiga tingakatan untuk tingkat lanjutan.
Penentuan bahan pelajaran telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dimungkinkan selesai untuk diberikan di kelas tersebut untuk waktu tertentu.
Konsekuensi system kelas adalah adanya kenaikan kelas setiap tahun. Dengan system ini akan diperoleh kelogisan, kesistematisan, dan ketetapan penjenjangan bahan pelajaran. Di samping itu, kurikulumny mudah disusun serta mudah dievaluasi.
Kelemahan system kelas ini antara lain adalah timbulnya efek psikologis bagi peserta didik yang tidak naik kelas.
Sistem tanpa kelas
Pelaksanaan program dengan system ini tidak mengenal adanya kelas-kelas tertentu, yang ada hanyalah tingkat-tingkat program tertentu. Setiap anak diberi kebebasan untuk berpindah program setiap waktu tanpa harus menunggu kawan-kawannya. System ini misalnya dapat ditemui pada lembaga-lembaga kursus yang diselenggarakan oleh lembaga tertentu.
Keunggulan system ini terletak pada kebebasan bagi siswa dan cukup demokratis. Adapun kelemahannya, antara lain sulit ditentukan scope dan sequence program ini untuk mencegah terulangnya penyampaian bahan yang telah diberikan.
Sistem Unit waktu yang dipergunakan
Dalam system waktu dikenal adanya system Caturwulan dan semester. Dalam system Caturwulan, penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi pelajaran dilaksanakan dalam ukuran waktu 4 bulan. Sedangkan dalam system semester waktu pembelajaran dilaksanakan selama 6 bulan.
Pengalokasian waktu
Masing-masing mata pelajaran memerlukan alokasi waktu yang berbeda-beda sesuai tingkat urgensi dan kesulitannya. Mata pelajaran yang disiapkan untuk pelaksanaan ujian membutuhkan alokasi yang lebih banyak dari pada mata pelajaran dari kurikulum local yang tidak diuji secara nasional.
Pokok-pokok bahasan dalam satu mata pelajaran juga memiliki komplesitas yang berbeda-berbeda yang tentunya membutuhkan alokasi waktu yang berbeda pula.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home