Friday, May 05, 2006

RESUME AL-TAFSI>R WA AL-MUFASSIRU>N, Muhammad Husein adz-Dzahabi

RESUME
AL-TAFSI>R WA AL-MUFASSIRU>N
Muhammad Husein adz-Dzahabi

Oleh : Ode Abdurrachman


Pandangan Umum Kitab Al-Tafsir wa Al-Mufassirun


Kitab ini pada dasarnya membicarakan tentang Tafsir dan Perkembangannya, yang secara detail mengupas berbagai metode yang ditempuh oleh para mufassir, berbagai corak tafsir yang dikenal di kalangan ulama salaf, juga corak-corak tafsir yang lahir di masa kontemporer. Yang menarik, kupasan tersebut dominan dalam bentuk bedah profil kitab dan pengarang tafsirnya sekaligus, yang diklasifikasi menurut masa dan corak tafsir yang dikembangkannya. Dilihat dari sisi ini, maka tidak salah bila kitab ini dikategorikan sebagai Kamus Tafsir.
Husein adz-Dzahabi menjelaskan bahwa motivasi dasar penulisan kitabnya adalah untuk mengingatkan kaum muslimin akan peradaban tafsir yang telah mewarnai dan memenuhi isi perpustakaan Islam, akan keanekaragaman madzhab dan corak tafsir, serta agar mereka mau mempelajari tafsir selain madzhabnya sendiri. garis besar, adz-Dzahabi sendiri mengklasifikasi kitab Tafsîr wa al-Mufassirûn menjadi tiga, yaitu Mukaddimah, Tiga Bab Pembahasan, dan Penutup, yang masing-masing memiliki sub-sub bahasan tersendiri.
Pokok pembahasan yang pertama dibagi menjadi:
1. Pengertian Tafsir dan Ta’wil, serta perbedaan antara keduanya;
2. Penafsiran al-Qur’an dengan tidak menggunakan bahasa Arab; dan
3. Polemik para ulama tentang Tafsir; Apakah tergolong Tashawwurat atau Tashdiqat?
Yang dimaksud Tiga Bab Pembahasan pada pokok pembahasan kedua adalah:
1. Pembahasan tentang Fase Pertama, yaitu perkembangan tafsir pada masa Nabi dan para sahabat;
2. Pembahasan tentang Fase Kedua, yaitu perkembangan tafsir pada masa tabi’in; dan
3. Pembahasan tentang Fase Ketiga, yaitu perkembangan tafsir pada masa penyusunan (modifikasi), yang dimulai dari zaman ‘Abbasiyah sampai zaman kontemporer (masa hidup adz-Dzahabi);
Adapun pokok pembahasan ketiga tentang beberapa corak tafsir yang berkembang pada masa kontemporer, secara ringkas diklasifikasi menjadi: Pertama, “Tafsir Ilmi”, yaitu tafsir berdasarkan pada pendekatan ilmiah; Kedua, “Tafsir Madzhabi”, yaitu tafsir berdasarkan madzhab teologi atau fiqh yang dianut oleh para mufassir; Ketiga, “Tafsir Ilhady”, yaitu tafsir yang menggunakan pendekatan menyimpang dari kelaziman ; Keempat, “Tafsir sastra-sosial”, yaitu tafsir yang menggunakan pendekatan sastra dan berpijak pada realitas sosial. (Keterangan ini dibuat berdasarkan Kata Pengantar penulis kitab at-Tafsir wa al-Mufassirun langsung).

Di dalam Mukadimah terdiri dari tiga pokok pembahasan yakni :
1. Makna tafsir dan ta’will serta perbedaan antara keduanya
Pengertian Tafsir
a. Menurut Bahasa
Tafsir menurut bahasa al-Idah wa Tabyin (menjelaskan) sebagaimana yang diterangkan didalam QS. Al-Furqan : 23
b. Menurut Istilah
Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hal ini dikalangan ulama, namun pada prisnipnya dapat disamakan pada satu pendapat yang saling melengkapi antar pendapat satu dengan yang lainnya. Menurut Abu Hayyan bahwa yang dimaksud dengan tafsir adalah ilmu yang menerangkan tata cara melafadzkan al-Qur’an, hokum dan dalalahnya dan kalimat tunggal dari kalimat majmu serta arti-arti yang terkait dengan sastra dan susunan al-Qur’an dan ishrat-ishrat Ilmiahnya.
Pengertian Ta’wil
a. Menurut Bahasa
Mengembalikan arti lafal kepada salah satu dari beberapa artinya yang beragam
b. Ta’wil menurut ulama salaf ada dua pendapat :
1. Ta’wil dalam arti yang luas, yaitu sama dengan tafsir yang menjelaskan maksud kandungan ayat baik sesuai dengan arti lahirnya ataupun menyalahinya.
2. Ta’wil dalam arti sempit yang terkandung dalam teks dan menjelaskan maksud kandungan teks ayat tersebut.
Perbedaan Tafsir dan Ta’wil
Ada beberapa perbedaan pendapat untuk menjelaskan antara tafsir dan ta’wil Abu Ubaidah yang dikutip dari al-Itqan oleh al-Zahabi berpendapat bahwa tafsir dan ta’wil memiliki satu arti (al-Itqan Jilid.2.h.173) sedangkan menurut al-Isfahani menjelaskan bahwa tafsir lebih umum dari ta’wil, tafsir banyak diperguakan pada lafaz-lafaz sedangkan ta’wil banyak dipergunakan pada makna.
2. Tafsir al-Qur’an dengan bahasa yang lain (terjemahannya)
Penafsiran al-Qur’an dengan bahasa yang lain menurut bahasa ada dua makna yakni yang pertama adalah pemindahan bahasa yang satu pada bahasa yang lain dengan tidak menjelaskan makna asal lafadz yang diterjemahkan kedua adalah menjelaskan kalimat/lafadz sekaligus menjelaskan maknanya dengan bahsa yang lain dengan demikian terjemah dapat dibagi pada dua bagian yakni terjemah harfiyah dan terjemah maknawiyah dan tafsiriyah.
3. Perbedaan para ulama tafsir dari segi t}asawwurat atau dari segi tasdiqa>t
Tafsir dalam prespektif tasawwur adalah penemuan dan penampakkan makna-makan lafadz al-Qur’an sebab di dalam ilmu bahasa Arab banyak membicarakan dan menyebutkan tentang lafadz-lafadz dan cara memahaminya. Sedangkan tafsir dalam prespektif tasdiqat adalah banyak membicarakan dan menyebutkan tentang lafadz-lafadz dan cara memahaminya. Sedangkan tafsir dalam prespektif tasdiqatadalah banyak membicarakan hukum yang terkandung dalam lafadz dengan hukum yang terkandung dalam lafadz tersebut dalam berfungsi pada makna dengan demikian tafsir itu hanya membicarakan hal-hal yang bersifat parsial.
Inti dalam Bab Pertama ini, banyak dibicarakan masalah-masalh tafsir dengan perspektif lain pada masa Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, dimana terdiri dari empat bagian :
1. Pemahaman Nabi Muhammad Saw dan para sahabat terhadap al-Qur’an dan terdapat juga sumber-sumber tafsir.
Pemahaman Rasulullah Saw, yang bersifat alami, terhadap al-Qur’an baik secara global atau terperinci lebih memudahkan legi beliau untuk menghafal dan menjelaskan isi dan kandungan al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab.
2. Pendapat para mufasir dari kalangan sahabat
Para sahabat juga memahami al-Qur’an juga bersifat alami, namun terbatas pada zahir lafadz dan maklum yang terkandung di dalam lafadz tersebut. Ada beberapa pendapat terkait dengan pemahaman para sahabat pada makna al-Qur’an, perbedaan tersebut muncul karena faktor pengetahuan, kecerdasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh para sahabat terkait dengan ilmu kebahasaan yang berbeda-beda.
Sumber rujukan para sahabat terkait dengan ilmu kebahasaan yang berbeda-beda. Sumber rujukan para sahabat dalam penafsiran al-Qur’an diantaranya :
a. Al-Qur’an al-Qarim
b. Nabi Muhammad Saw.
c. Ijtihada dan kekuatan di dalam menghasilkan hukum
d. Ahl al-Kitab dari Yahudi dan Nasarni
Para mufasir dari Sahabat
a. Abdullah Ibn ‘Abbas
b. Abdullah Ibn Mas’ud
c. Ali Ibn Abi Thalib
d. Ubay Ibn Ka’ab
Menurut As-Suyuti dalam kitab al-Itqan menyebutkan bahwa diantara sahabat yang ahli tafsir yang terkenal adalah sebagai berikut; para khalifah rasyidin, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubay Ibn Ka’ab, Zaid Ibn Thabit, Abu Musa al-Anshari, Abdullah Ibn Zubayr
3. Penilaian sahabat terhadap tafsir ma’thur
4. Urgensi dan signifikansi tafsir
Pada Bab kedua membahasa tafsir pada masa tabi’in, yang terdiri dari empat bagian :
1. Dalam Bab ini membahas sumber-sumber pada masa tabi’in dan pengajaran tafsir
2. Penilaian tabi’in terhadap tafsir di al-Ma’thu>r
3. Urgensi dan signifikansi tafsir
4. Perbedaan pendapat antara ulama salaf (tradisional) dengan ulama hBagian Bab Ketiga ini membahas masalah kodifikasi, metode dan kecenderungan tafsir yang dimulai dari masa Abbas sampai pada masa modern yang terdiri dari delapan bagian, yakni:
2. Metode tafsir bi al-Ma’thur dan tatacara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an
3. Metode tafsir bi al-Ra’yi dan apa-apa yang terkait dengan penafsiran
4. Urgensi kitab-kitab tafsir bi al-Ra’yi
5. Kitab-kitab tafsir bi al-Ra’yi yang cacat dan terdiri dari gologan ahli bid’ah, yaitu mu’thazilah, Imam kedua belas, Imam Ismailiyah, Babiyyah, Bahaiyah, Zaydiyah, Khawarij.
6. Tafsir Sufi
7. Tafsir Falsafi
8. Tafsir Fiqh
9. Tafsir ‘Ilm
Tafsir Masa Modern
Sebagai penutup al-Zahabi membahas aliran-aliran kecenderungan dan corak penafsiran di era modern ini, yang mencakup.
- Aliran Ilmi
- Aliran Mazhabi
- Aliran Ilhad
- Adabi al-Ijtima’i
Dengan kemajuan berbagai bidang yang cukup berarti bagi dunia Islam khususnya yang berkaitan dengan tafsir diabad ke-19 atau abad ke-15. dan sejak kekuasaan dipengang oleh khalifah rasyidin, kondisi sosio kultural umat Islam berkembang dalam kondisi yang berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Nabi Saw. Perkembangan dan perubahan itu berjalan terus seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman sampai pada abad 21, berbagai ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an sangat membutuhkan penafsiran ulang sehingga tuntutan itu sangat mendesak apalagi setelah bersentuhan dengan peradaban asing yang semakin intens, terlebih lagi dalam istilah corak penafsiran, Adabi Ijtima’i al-Qur’an dirasakan tidak lagi menyentuh urusan-urusan kemasyarakatan umat Islam sendiri, para mufassir modern menyadari bahwa tafsir pada hakekatnya mempertemukan teks al-Qur’an dengan konfisi zaman yang dihadapinya, sehingga diskursus para mufassir modern muncul hanya ingin membuktikan bahwa al-Qur’an benar-benar universal dan dapat menjawab tantangan zaman melalui pendekatan tafsir ilmi, mazhabi, iltihadi, dan Adabi Ijtima’i.

1 Comments:

Blogger tya said...

please for completed this resume. cause, this very important.thank's

4:14 PM  

Post a Comment

<< Home