Monday, May 08, 2006

Sistem organisasi dan Penyelenggaraan Kurikulum


Sistem organisasi dan Penyelenggaraan Kurikulum
oleh : Ode Aburrchman. dkk

Organisasi kurikuluam adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Struktur program ini merupakan dasar yang cukup esensial dalam pembinaan kurikulum dan berkaitan erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai. Ada dua struktur yang dikembangkan dalam pengorganisasian dan penyelenggaraan kurikulum, yaitu struktur horizontal dan struktur vertikal. Struktur horizontal berkaitan dengan masalah pengorganisasian atau penyusunan materi yang akan ditransformasikan kepada peserta didik dalam pola atau bentuk tertentu.
Sedangkan struktur vertical berhubungan dengan system-sistem pelaksanaan kurikulum sekolah, yang antara lain meliputi pengaturan kelas dan alokasi waktu.
Tulisan ini mengurai tentang komponene-komponen yang terkandung pada masing-masing struktur program horizontal dan vertical.
Struktur Horisontal
Struktur horizontal dalam pengorganisasian kurikulum merupakan suatu bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan diberikan pada peserta didik. Sejak permulaan abad ke-20 terutama di Amerika serikat muncul beberapa organisasi kurikulum yang baru sebagai reaksi terhadap organisasi kurikulum subject matter, yang merupakan organisasi kurikulum yang paling tua. Pertentangan muncul antara subject matter curriculum dengan lawannya yaitu activity curriculum. Dalam dunia pendidikan dikenal ada tiga jenis pola organisasin kurikulum, yakni: subject curriculum, activity curriculum, dan core curriculum. Dalam prakteknya tidak pernah dijumpai satu bentuk kurikulum yang murni melainkan terdapat modifikasi dari ketiga pola tersebut.
Setiap organisasi kurikulum ditandai oleh ciri-ciri khusus yang membedakannya dari organisasi yang lain. Disamping cirri-ciri tersebut, setiap organisasi memerlukan sarana dan perangkat yang berbeda pula.
Pelaksanaan kurikulum dipengaruhi dan bergantung kepada banyak factor terutama sarana belajar, guru, pimpinan pendidikan (kepala sekolah), dan orang tua peserta didik.
Subject Matter Curriculum
Subject matter curriculum merupakan organisasi kurikulum yang tertua dan banyak digunakan di berbagai negara. Subject matter curriculum adalah organisasi materi pendidikan dalam bentuk mata-mata pelajaran yang disajikan dan diberikan kepada peserta didik secara terpisah. Mata-mata pelajaran itu biasanya berupa pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dan logis yang diberikan sesuai ndengan jenjang-jenjang tertentu.
Ciri-ciri :
Mata pelajran yang diklasifikasikan sesuai dengan bidang keilmuan/pengetahuan ilmiah.
Memberikan tekanan pada isi dan teknik memberikan pelajaran
Mata pelajaran umumnya bersifat konstan dan tidak banyak perubahan, meskipun perkembangan ilmu pengetahuan mengalami peningkatan
Perencanaan program pengajaran disusun terlebih dahulu
Untuk mengembangkan subject matter curriculum yang optimal, diperlukan beberapa sarana, baik personel, material, dan fasilitas lainnya.
S. Nasution mengklasifikasi bentuk subject matter curriculum menjadi tiga, yaitu Separate subject curriculum, correlated subject curriculum, dan integrated subject curriculum. Bentuk ketiga ini ternyata sama dengan activity curriculum yang dimaksudkan oleh Nana Sudjana.
Separate subject curriculum
Kurikulum ini menyajikan materi pelajaran dalam bentuk subyek-subyek tertentu yang terpisah-pisah. Kurikulum yang disusun dalam bentuk terpesah-pisah ini lebih bersifat subject centered, yaitu berpusat pada bahan pelajaran, dari pada child centered, yang berpusat pada minat dan kebutuhan peserta didik. Kurikulum bentuk ini disusun berdasarkan pandangan ilmu jiwa asosiasi, yaitu mengharapkan terjadinga kepribadian yang bulat berdasarkan potongan-potongan pengetahuan.
Ada beberapa kelebihan dan kelemahan pada separate subject kurikulum ini.
Kelebihan kurikulum ini antara lain :
Bahan pelajaran dapat disampaikan secara logis, sistematis dan berkesinambungan
Organisasinya sangat sederhan, mudah direncanakan, mudah dilaksanakan, dan mudah pula diadakan perubahan.
Kurikulum ini mudah dievaluasi, untuk selanjutnya diadakan perbaikan seperlunya.
Memudahkan guru untuk menyampaikan materi, karena guru hanya dibebani menyampaikan materi-materi tertentu yang sesuai dengan kompetensinya saja.
Adapun kelemahan kurikulum ini antara lain:
Kurikulum ini memberikan pelajaran secara terpisah-pisah yang tidak ada hubungannya dengan materi lain sehingga penguasaan peserta didik atas materi merupakan sesuatu yang lepas antara satu dengan lainnya.
Kurikulum ini kurang mengakomodasi minat dan bakat peserta didik.
Kurikulum ini cenderung statis karena sudah direncanakan terlebih dahulu.
Kurikulum ini hanya mengembangkan ranah kognitif, dan kurang memperhatikan ranah afektifnya.
Correlated Subject curriculum
Kurikulum ini berusaha menghubungkan antara dua mata pelajaran atau lebih, sehingga diharapkan peserta didik akan memperoleh pengetahuan yang utuh dan tidak sepotong-potong seperti pada separate subject curriculum, misalnya menghubungkan antara matematika, fisika, kimia dan biologi yang semuanya tergolong dalam IPA; menghubungkan antara sejarah, ekonomi, dan ilmu social yang memang termasuk dalam IPS.
Kurikulum ini juga mempunyai kelemahan, di samping banyak kelebihan yang dimiliki.
Kelebihan kurikulum ini antara lain:
Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran, sehingga dapat menopang kebulatan pengalaman dan pengetahuan peserta didik.
Adanya kemampuan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan secara fungsional, karena mereka dapat memanfaatkan korelasi antar mata pelajaran untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.
Adapun kekurangan kurikulum ini adalah:
Kurikulum ini, sebagaimana separate sumject curriculum, juga belum menyentuh aspek emosi.
Penggabungan beberapa mata pelajaran yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam
Integrated Curriculum
Kurikulum ini benar-benar menghilangkan batas di antara berbagai mata pelajaran. Keseluruhan mata pelajaran dilebur menjadi satu dan disajikan dalam bentuk unit. Dengan adanya kebulatan bahan pelajaran, diharapkan dapat terbentuk kebulatan pengetahuan peserta didik yang sesuai dengan lingkungan masyarakatnnya. Oleh karena itu, materi pembelajaran harus disesuaikan dengan situasi, masalah, dan kebutuhan kehidupan di luar sekolah.
Kelebihan kurikilum ini antara lain:
Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan dan minat anak.
Kurikulum ini memungkin danya hubungan saling menguntungkan antara sekolah dengan masyarakat, karena masyarakat menjadi laboratorium bagi peserta didik.
Kelemahan kurikulum ini antara lain:
Tidak mempunyai organisasi yang logis dan sistematis
Pelaksanaannya membutuhkan prasarana yang harus lengkap
Sulit diadakan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaannya
Activity Curriculum
Kurikulum ini sama dengan integrated subject curriculum, yang menekankan pada aktivitas dan pengalaman peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Ada tiga ciri kurikulum ini yang membedakan dengan kurikulum yang lain, diantaranya:
Program kegiatan pembelajaran di sekolah ditentukan oleh perhatian dan tujuan anak.
Tidak ada perencanaan terlebih dahulu, karena materi disesuaikan dengan minat peserta didik.
Metode yang paling dominant dalam pengajarannya adalha problem solving.
Adanya program khusus untuk mel;ayani peserta didik yang mempunyai minat khusus.
Guru yang mengajar harus mempunyai pengetahuan yang luas, khususnya tentang perkembangan anak
Tidak ada urutan tingkatan dan kelas
Perencanaan dan proses pembelajaran tidak terikat oleh waktu.
Core Curriculum
Core curriculum (kurikulum inti) muncul atas dasar pemikiran bahwa pendidikan memberikan tekanan pada dua aspek yang berbeda, yakni:
Adanya reaksi terhadap mata pelajaran yang terpisah-pisah yang mengakumulasi bahan pelajaran. Karena permasalahan inilah sehingga perlu mengorganisasi mata pelajaran dalam satu inti yang mengandung banyak bahan pelajaran yang diharapkan dapat memperkaya isi mata pelajaran dengan makna yang lebih luas.
Perubahan konsep mengenai peranan social pendidikan di sekolah. Di dalam masyarakat yang semakin terbagi-bagi dan terfragmentasi, perlu adanya program pendidikan yang menekankan kepada usaha mempertahankan nilai-nilai umum dan perspektif social yang dianut bersama.
Struktur Vertikal
Struktur vertical berhubungan dengan masalah system-sistem penyelenggaraan kurikulum sekolah, yaitu apakah kurikulum itu dijalankan dengan system kelas atau tanpa kelas, system unit waktu yang digunakan, dan masalah pembagian waktu untuk masing-masing bidang studi (dan pokok bahasan) pada tiap tingkat.
Penyelenggaraan kurikulum melalui system kelas dan tanpa kelas
Sistem Kelas
Kurikulum ini menuntut dilaksanakan melalui ke;as-kelas tertentu, yaitu dari kelas I sampai kelas VI untuk sekolah dasar dan tiga tingakatan untuk tingkat lanjutan.
Penentuan bahan pelajaran telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dimungkinkan selesai untuk diberikan di kelas tersebut untuk waktu tertentu.
Konsekuensi system kelas adalah adanya kenaikan kelas setiap tahun. Dengan system ini akan diperoleh kelogisan, kesistematisan, dan ketetapan penjenjangan bahan pelajaran. Di samping itu, kurikulumny mudah disusun serta mudah dievaluasi.
Kelemahan system kelas ini antara lain adalah timbulnya efek psikologis bagi peserta didik yang tidak naik kelas.
Sistem tanpa kelas
Pelaksanaan program dengan system ini tidak mengenal adanya kelas-kelas tertentu, yang ada hanyalah tingkat-tingkat program tertentu. Setiap anak diberi kebebasan untuk berpindah program setiap waktu tanpa harus menunggu kawan-kawannya. System ini misalnya dapat ditemui pada lembaga-lembaga kursus yang diselenggarakan oleh lembaga tertentu.
Keunggulan system ini terletak pada kebebasan bagi siswa dan cukup demokratis. Adapun kelemahannya, antara lain sulit ditentukan scope dan sequence program ini untuk mencegah terulangnya penyampaian bahan yang telah diberikan.
Sistem Unit waktu yang dipergunakan
Dalam system waktu dikenal adanya system Caturwulan dan semester. Dalam system Caturwulan, penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi pelajaran dilaksanakan dalam ukuran waktu 4 bulan. Sedangkan dalam system semester waktu pembelajaran dilaksanakan selama 6 bulan.
Pengalokasian waktu
Masing-masing mata pelajaran memerlukan alokasi waktu yang berbeda-beda sesuai tingkat urgensi dan kesulitannya. Mata pelajaran yang disiapkan untuk pelaksanaan ujian membutuhkan alokasi yang lebih banyak dari pada mata pelajaran dari kurikulum local yang tidak diuji secara nasional.
Pokok-pokok bahasan dalam satu mata pelajaran juga memiliki komplesitas yang berbeda-berbeda yang tentunya membutuhkan alokasi waktu yang berbeda pula.

Friday, May 05, 2006

SARDAR DAN REKONSTRUKSI PERADABAN MUSLIM

SARDAR DAN REKONSTRUKSI PERADABAN MUSLIM
Oleh : Ode Abdurrachman


A. Profil Ziauddin Sardar
Ziauddin Sardar adalah intelektual muslim yang juga Penulis dalam pemikiran Islam kontemporer, sains, dan juga seorang kritikus budaya, juga termasuk salah satu penulis Islam progresif, bahkan ada yang menyebut beliau seorang utopis, dan generalis. Lelaki kelahiran Pakistan (Punjab) 1951 ini besar di Hackneyh, kawasan timur London, dan bermukim di Inggris.
Sardar pernah menjadi fenomena tersendiri dalam intelektualisme Islam pada era 1980-an, bersama koleganya Parvez Manzoor, Gulzar Haider, atau Munawar Ahmad Anees, karena mempelopori munculnya suatu gerakan kesarjanaan baru kaum muslimin di Barat. Dimana dalam gerakan tersebut memadukan sekaligus tradisi intelektuaslime dan aktivisme. Hal ini berbeda dengan tokoh-tokoh intelektual muslim generasi sebelumnya seperti Syed Hossein Nasr, Ismail Raji Faruqi, atau Fazlur Rahman yang umumnya bekerja di universitas-universitas terkemukan Barat terkemuka sebagai “ahli Islam” dan mencapai karir personal yang cemerlang sehingga secara pribadi-pribadi mereka memperoleh karir personal yang cemerlang dan mendapat penghormatan intelektual yang tinggi.
Gerakan cemerlang Sardar tentang rekonstruksi peradaban muslim harus dipahami sebagai vis-à-vis dalam hubungan dengan dominasi peradaban Barat. Karena Islam harus direkonstruksi sebagai peradaban, karena sebagai peradaban juga Islam telah menjadi puing-puing dihadapan keperkasaan peradaban Barat. Karenanya hanya dengan sebuah rekonstuksi peradaban Islam bisa mewujudkan diri sebagai perangkat keras dari pengalaman sejarahnya, dan dengan cara inilah Islam akan lebih bermakna.
Tentang tema yang akan dibahas nantinya sebagian besar berasal dari tulisan Sardar pada majalah Afkar Inquiry yang merupakan jurnal akademis Islam yang begitu eksperimental antara tahun 1984-1986, karena visinya dan mempelopori dikembangkannya diskursus akademis mengenai isu-isu tentang perlunya Islam direkonstruksi sebagai peradaban.


A. Perlunya Sains Islam[1]
Islam bukan sekedar agama namun lebih jauh, Islam menjelaskan dirinya sebagai Din; Suatu deskripsi menyeluruh melebihi pengertian tradisional tentang agama kebudayaan dan peradaban. Dimana Islam juga memuat suatu sistim politik dan metode organisasi sosial yang hidup dan dinamis.
Sistim ini bermuatan struktur yang utuh meliputi sebuah matriks mengenai nilai-nilai dan konsep-konsep abadi yang hidup dan realistis sehingga memberikan karakter yang unik bagi peradaban dan pandangan dunia Islam. Nilai-nilai ini akan memberikan parameter-parameter bagi masyarakat muslim dan sekaligus petunjuk bagi peradaban Islam untuk mencapai nasibnya yang manifes.
Di dalam lingkaran (cordon) nilai-nilai dan konsep-konsep seperti; Tauhid, Khilafah, Akhirat, Ibadah, Ilm dan Istishlah (kepentingan umum), dimana sepanjang sejarah Islam telah dimanifestasikan nilai-nilai tersebut melalui berbagai cara sesuai dengan kondisi sejarah dan lingkungannya, akan tetapi tetap mempertahankan karakteristiknya yang unik dan abadi.
Masyarakat muslim kontemporer memiliki kebutuhan-kebutuhan dan kondisi-kondisi khusus yang perlu disesuaikan dengan pandangan dunia Islam, dimana semua kebutuhan harus menurut struktur nilai Islam. Dengan demikian metode, proses dan sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini bagi masyarakat muslim kontemporer harus merupakan pencerminan dari perwujudan kebudayaan dan nilai-nilai Islam.
Demikian juga dengan Sains sebagai sarana paling penting untuk memecahkan problem-problem manusia serta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya harus berada dalam sirkumferensi (lingkaran) nilai-nilai dan konsep-konsep Islam yang abadi.
Sains adalah apa yang dilakukan atau dikerjakan oleh ilmuwan untuk memecahkan masalah dimana lebih dititikberatkan pada bidang-bidang yang telah dirumuskan sesuai dengan kerangka nilai peradaban modern.[2]
Sains yang beroperasi dalam struktur nilai Islam memiliki proposisi yang berbeda dibandingkan dengan sains sebagaimana yang dipraktekkan pada masa sekarang ini. Sains modern tidak berkepentingan untuk mengejar kebenaran objektif maupun gagasan platonik, tetapi sebagai suatu sistim pemecahan masalah yang bersifat paradigmatik.
Salah satu penemuan paling penting yang ditunjukan oleh karya Sayyed Hossein Nasr tentang sains Islam yang dipandang sebagai sebuah tradisi ilmiah dan intelektual yang independen, adalah bahwa tidak ada suatu metode pun yang digunakan dalam sains itu yang mengenyampingkan metode-metode lainnya. Sebaliknya sains Islam senantiasa berupaya untuk menerapakan metode-metode yang berlainan sesuai dengan watak subyek yang dipelajari dan cara-cara memahami subyek tersebut. Para ilmuan Muslim, dalam menanamkan dan mengembangkan beraneka ragam sains, telah menggunakan setiap jalan pengetahuan yang terbuka bagi manusia, dari rasiosinasi dan interpretasi Kitab Suci hingga observasi dan eksperimentasi.[3]
Tidak ada yang netral dan bebas-nilai dalam sains modern, karena prioritas-prioritasnya, penekanannya, metode dan prosesnya serta pandangan-dunianya merefleksikan kepentingan masyarakat dan kebudayaan Barat, dimana sains semata-mata digunakan untuk mengejar keuntungan dan jumlah produksi untuk mengembangkan militer dan perlengkapan-perlengkapan perang, serta dominasi ras manusia terhadap ras manusia lainnya. Sehingga dalam sistim Barat sains itu sendiri merupakan nilai tertinggi sehingga segala-galanya harus dikorbankan pada altar sains.
Sementara dalam Islam sangat berbeda karena pencarian ilmu pengetahuan (ilm) hanya bermakna jika ilmu pegetahuan yang dicari menurut pandangan dunia-Islam adalah mencari karunia Allah. Dengan demikian sains dalam Islam bukanlah nilai itu sendiri, tetapi tunduk pada matriks nilai-nilai abadi. Oleh karena itu sains jelaslah tidak bebas nilai, berbeda dengan sains di Barat yang berupaya mengembangkan nilai-nilai kebudayaan dan peradaban Barat, sementara sains Islam mengembangkan nilai-nilai pandangan Islam, misalnya dalam penggalian ilmu pengetahuan disamakan dengan Ibadah, artinya ilmu pengetahuan itu harus dicari dalam kerangka yang relevan dengan nilai-nilai lain seperti keadilan, kepentingan umum dan sebagainya.
Namun perlu diingat bahwa tidaklah bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri adalah suatu kebajikan seperti dalam paham Aristotelian, karena tidak semua pencarian ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan ibadah. Rasulullah Saw, secara tegas pernah mengatakan ketika beliau mengetahui bahwa meskipun Astrologi sebenarnya adalah bagian dari ilmu pengetahuan, tetapi keburukannya lebih besar daripada kebaikannya.
Oleh karena itu kita membutuhkan sains Islam karena kebutuhan-kebutuhan, prioritas-prioritas dan perhatian masyarakat muslim berbeda dengan apa yang dimiliki oleh peradaban Barat, disamping itu peradaban Islam tidak akan sempurna tanpa memiliki suatu sistim objektif untuk memecahkan masalah yang terakumulasi sesuai dengan paradigmanya masing-masing. Tanpa sains Islam dan masyarakat muslim hanya akan menjadi bagian dari kebudayaan dan peradaban Barat. Singkatnya kita tidak akan memiliki masa depan yang jelas tanpa sains Islam.

B. Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam[4]
Untuk merumuskan parameter-parameter sains Islam pada konteks kekinian, perlu kiranya dikembangkan solusi-solusi yang viable dalam kaitannya dengan krisis sains Barat. Meskipun demikian realisasi kontemporer dari sains Islam harus didasarkan pada suatu kerangka nilai yang menjadi karakteristik-karakteristik dasar kebudayaan Islam.
Perdebatan panjang dikalangan ilmuwan-ilmuwan muslim tentang “Sains Islam” telah memberikan garis-garis besar pengembangan sains dikalangan masyarakat muslim, dimana kebijakan tersebut memungkinkan diserapnya manfaat yang berharga dari sains dan teknologi tanpa menjual nilai dan kebudayaan Islam, serta yang mampu memberikan bentuk yang hidup dan dinamis kepada filsafat dan pandangan dunia Islam.
Fenomena yang muncul kemudian adalah bahwa sains, teknologi dan masyarakat, dalam setiap interaksinya senantiasa menemukan masalah yang kerap muncul dalam skala dan kompleksitas yang luas, sehingga solusi-solusi praktis yang ditawarkan tampak surut dalam kabut konstrain-konstrain lingkungan, ekonomis dan politis. Sungguh sebuah persoalan yang paling signifikan yang sedang dihadapi ummat manusia saat ini.
Selain itu krisis atas sains diwarnai oleh “sang ilmuwan” (the scientist) -sebagai seorang peneliti yang bededikasi tinggi- dalam pengamatan para filososf, kini tidak lagi bertugas mengumpulakan fakta-fakta, seperti mengumpulkan kerikil dipantai, namun mereka justru menyelidiki masalah-masalah. Thomas S Khun misalnya, pernah mengatakan bahwa banyak ilmuwan merasa puas karena menganggap telah “memecahkan teka-teki di dalam sebuah paradigma”, dan ketika paradigma itu hancur karena datangnya revolusi ilmu pengetahuan (baca: Revolusi Ilmiah)[5], banyak dari teka-teki yang dianggap sudah dipecahkan itu muncul kembali.[6]
Selanjutnya seperti dikatakan oleh Jerome Ravetz, Guru Besar sejarah dan filsafat ilmu di Universitas of Leeds, mengemukakan bahwa krisis yang terjadi di dalam sains telah menimbulkan sejumlah paradoks, salah satunya yang paling besar adalah “para idelog sains Barat yang telah memaksakan pengaruh mereka selama berabad-abad dengan menyatakan bahwa apa yang dilakukannya demi kepentingan signifikansi manusia dengan membuatkan landasan-landasan nilai, sementara pada saat yang sama menghindari biaya dan tanggungjawab dari signifikansi itu dengan menganggap bahwa pekerjaan mereka pada dasarnya tidak mungkin bisa dikaitkan dengan komitmen-komitmen nilai.
Hal ini dikuatkan dengan pendapat Ilmuan Islam seperti Syed Muhammad an-Naquib al-Attas dari Universitas Nasional Malaysia, yang dimuat dalam papernya “The De-Westernisation on Knowledge”[7]. Inti argumen al-Attas adalah; ilmuwan-ilmuwan dan teknolog-teknolog muslim yang bekerja menurut sistim ilmu pengetahuan Barat, hanya akan memajukan nilai-nilai dan ketegangan batin dari kebudayaan dan peradaban Barat. Sains seperti ini tidak pernah akan diinternalisasikan oleh ummat Islam, dikarenakan tidak akan berakar pada epistimologi dan sistim nilai Islam –sebuah sains yang dapat diinternalisasikan dan bisa mengekspresikan tanggugjawab sosial kaum muslim- sungguh akan menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak.
Untuk menjawab permasalahan ini, sarjana-sarjana muslim dan Barat dalam seminar “Islam and the West”, telah saling sepakat bahwa realisasi kontemporer dari sains Islam harus didasarkan pada suatu kerangka nilai yang merupakan karakteristik-karakteristik dasar kebudayaan Islam itu sendiri, diantaranya :
- Tauhid (baca:Keesaan Tuhan) : Konsep ini merupakan sebuah nilai yang all-embracing jika kemudian ditegaskan menjadi kesatuan ummat manusia, kesatuan antar manusia dan alam, dan kesatuan antara ilmu pengetahuan dan nilai.
- Khilafah: Bahwa manusia tidaklah independen dari Tuhan, tapi bertanggungjawab kepada Tuhan baik dalam kegiatan ilmiah maupun teknologisnya, konsep ini mengandung implikasi bahwa manusia tidak mempunyai hak eksklusif, tetapi bertanggungjawab untuk memelihara dan menjaga keselarasan tempat kediamannya di Bumi.
- Ibadah: Dengan melakukan kewajiban Kontemplasi (Ibadah), kesadaran mengenai Tauhid dan Khilafah akan timbul, dan berperan sebagai faktor yang mengintegrasikan kegiatan ilmiah dengan sistim nilai Islam. Sebab jika orang mencari ilmu pengetahuan untuk melakukan eksploitasi dan dominasi terhadap alam, pasti dia akan menjadi pengamat pasif.
- Ilm (baca: ilmu) : Konsep mengenai ilmu pengetahuan ini merupakan konsep yang paling banyak ditulis dan diperbincangkan oleh seluruh pengarang muslim klasik dari al-Kindi (801-873), al-Farabi (w.950), al-Biruni (937-1048) sampai al-Ghazali (w.1111) dan Ibn Khaldun (1332-1406) telah merumuskan klasifikasi-klasifikasi pokok mengenai ilmu pengetahuan tersebut menjadi dua kategori, yaitu; ilm yang diwahyukan (wahyu), yang menyediakan kerangka etika dan moral; dan ilm yang tak diwahyukan (non-wahyu), yaitu yang pencariannya yang menjadi kewajiban bagi kaum muslim di bawah petunjuk Ibadah.
Ilm pengetahuan non-wahyu selanjutnya dibagi menjadi dua kategori: fardu ain yaitu yang esensial bagi setiap individu untuk dipertahankan yaitu etika dan moralitas, dan fardu kifayah yakni yang diperlukan untuk kelangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan. Dalam kerangka ini pencarian ilmu pengetahuan untuk kepentingan individu atau komunitas adalah Ibadah.
- Halal dan Haram : Konsep ini menjadi relevan, yang mencakup semua yang bersifat destruktif bagi manusia sebagai individu dalam lingkungannya yang dekat, maupun lingkungan yang luas. Destruktif dalam pengertian fisik, mental dan spiritual. Dilain pihak semua yang bermanfaat untuk seorang individu, masyarakat dan lingkungannya adalah Halal. Dengan demikian suatu tindakan yang halal tentu membawa manfaat bagi individu, bisa saja mempunyai efek-efek yang berbahaya, baik bagi masyarakat, lingkungan, atau keduanya. Inilah mengapa halal harus bekerja diatas premis-premis distribusi keadilan sosial (adl). Sedangkan haram selalu akan menimbulkan zulm (kezaliman), dan tirani.
- Adl (keadilan sosial) : Demikianlah, kegiatan ilmiah dan teknologis yang berupaya memajukan adl (keadilan sosial) adalah Halal, sementara sains dan teknologi yang menimbulkan alienasi dan dehumanisasi, dimana konsentrasi kekayaan ditangan segelintir orang, pengangguran dan kerusakan lingkungan, adalah zalim (tiranik), oleh karena itu dinilai Haram.
- Zulm (tirani): Karakteristik dari teknologi yang zalim adalah bersifat boros sumber daya manusia, sumberdaya lingkungan dan sumber daya spiritual, dan dikategorikan sebagai sains dan teknologi yang memajukan keadilan sosial (adl) merupakan sumber suplementer terpenting dari hukum Islam.
- Istishlah (kepentingan umum) : Disinilah sebuah definisi mengenai sains Islam bisa diformulasikan dalam term kerangka nilai-nilai Qur’ani. Paradigma-paradigma sains Islam tersebut, adalah konsep-konsep Tauhid, Khilafah, Ibadah, yang bekerja dengan perantara Ilm untuk memajukan keadilan sosial (adl) dan kepentingan umum (istishlah), kemudian berkaitan dengan konsep-konsep yang lainnya.
Demikianlah tanggungjawab seorang ilmuwan muslim yang meliputi tanggungjawab yang sosial dan spiritual, dan sains Islam yang bertanggungjawab mengembangkan kesadaran ketuhanan; mengharmoniskan tujuan dan cara, dalam mencari ilmu pengetahuan; memperhatikan relevansi sosial dalam pencarian maupun penererapan ilmu pengetahuan; serta, menolak netralitas pengetahuan objektif.

C. Teknologi dan Kemandirian Domestik; Sebuah Alternatif Islam[8]

Munculnya teknologi Barat telah memperkenalkan semacam penjajahan gaya baru bagi negara-negara muslim, betapa tidak justru teknologi tersebut diimpor seakan menjual masa depan mereka. Evolusi dari sebuah alternatif Islam memerlukan penggabungan dan kerjasama sumber teknis dan intelektual dari dunia muslim seraya mengupayakan jawaban-jawaban lokal terhadap problem-problem lokal.
Teknologi inilah yang baru belakangan deperhatikan oleh kalangan intelektual muslim, setelah sempat terabaikan. Karena kurangnya pemikiran dari kalangan muslim menganai sifat dan peranan teknologi dalam masyarakat yang dilahirkan dari keyakinan kuat bahwa semua teknologi adalah baik dan bisa diperoleh dari dari masyarakat-masyarakat industrial melalui berbagai cara. Ada anggapan bahwa dengan teknologi juga mampu mengubah keadaan masyarakat muslim dari masyarakat terbelakang menjadi masyarakat industrial. Dengan demikian masyarakat muslim lebih mencurahkan perhatian untuk memperoleh semua teknologi daripada merumuskan apa yang secara pasti menjadi kebutuhan masyarakat muslim, serta membangun kapabilitas internal untuk memproduk inovasi-inovasi teknologis yang diinginkan.
Keyakinan akan sifat baik teknologi ini begitu mendalam, begitu berpengaruh sampai munculnya anjuran bahwa masyarakat muslim harus mengambil manfaat penuh dari upaya alih-teknologi Negara-negara industri maju. Alasan ini diperkuat oleh Waqar Ahmad Husaini,[9] yang pernah menawarkan pemikiran serius mengenai apa yang dinamakan “pola imitatif-inovatif modernisasi teknologis”. Dimana dalam salah satu kesimpulan yang bertentangan secara diametral, dikatakan bahwa sistim-sistim sains kaum muslim pada zaman pertengahan, dan sistim-sistim sains Barat pada zaman modern, termasuk Komunis, tumbuh melalui proses peminjaman dan asimilasi yang selektif, ini menunjukan bahwa masyarakat muslim secara lebih sempurna dapat lebih leluasa dan harus meminjam serta mengadaptasi prestasi kultural material dan teknologi dari bangsa-bangsa non-muslim yang lebih maju.[10]
Kesimpulan yang naif dan keliru ini, bisa memperkuat keyakinan para pengambil keputusan dan kalangan intelektual muslim, karena kendatipun keuntungan-keuntungan yang diharapkan dari pengalihan teknologi ini, berupa peningkatan kehidupan, peningkatan produktivitas pertanian dan hasil-hasil industri, malah hampir tidak terlihat di dunia muslim. Karena teknologi yang dipinjam hampir tidak cocok untuk masyarakat muslim disamping sumber daya manusia yang tidak memadai, nampaknya suku cadangnya juga harus tergantung pada pemasoknya.
Alih teknologi ini tidak hanya menyebabkan negara-negara muslim tergantung pada negara-negara industri namun dapat mempengaruhi kebudayaan dan lingkungan muslim, buktinya pengaruh teknologi yang diterapkan dikota suci Mekkah dan Madinah, dan kawasan yang dipakai untuk ibadah haji, misalnya, dimana telah dirombak tanpa ampun, diputus dari akar-akar sejarahnya, oleh semacam teknologi brutal yang menghasilkan kerusakan dan kurangnya perhatian terhadap nilai-nilai kultural.
Akan tetapi sangat disesali bahwa semua bukti ini dihadapan para tekhnolog dan intelektual muslim, dianggap hampir tidak mempunyai bobot untuk diperhatikan. Berbagai argumen dan pengalaman yang bersifat melawan kebijakan alih-tekhnologi, dengan begitu saja dihanyutkan hanya dengan mengutip contoh keberhasilan Jepang. Implikasinya lalu menjadi; Jika Jepang bisa berhasil, maka kita juga bisa !
Sesungguhnya jika ditelisik lebih jauh, tidak ada yang salah dengan teknologi konvensional Barat jika orang menerimanya sebagai produk dari pandangan dunia dan kebudayaan sekuler. Jika masyarakat tidak punya penghargaan terhadap kebudayaan sendiri atau jika masyarakat berkeingingan untuk menerima sifat eksploratif teknologi Barat, maka pada batas-batas tertentu, ia tidak akan tunduk pada tuntutan-tuntutan masyarakat tersebut. Meskipun demikian, setiap masyarakat yang menunjung tinggi nilai-nilai yang bertentangan dengan tujuan inheren teknologi Barat, mungkin bisa dilalap olehnya.
Karenanya tidak ada satupun yang netral, universal ataupun bebas nilai dalam hal teknologi Barat. Dengan demikian teknologi modern adalah produk sejarah dan kebudayaan yang khas dari peradaban Barat dan senantiasa membawa benih-benih asli dari kebudayaannya kemanapun ia disebarkan, termasuk didalamnya struktur-struktur ekonomi Barat yang kapitalis dan merupakan alat imperialisme kebudayaan.
Selama ini argumen tentang pemilihan dan seleksi teknologi secara khusus digunakan oleh para penganjur dan pendukung teknologi alternatif, sebagai Contoh, K. D. Sharma dan M. A. Qureshi yang mengatakan bahwa gagasan teknologi alternatif didasarkan pada “pemilihan dan seleksi tes teknologi atau teknologi-teknologi dari seperangkat teknologi yang tersedia untuk memproduk barang dan komoditi serta untuk memenuhi kebutuhan”. Teknologi alternatif ini diseleksi dari sebuah spektrum teknologi-teknologi yang tersedia yang memiliki karakteristik sebagai berikut[11] :
1. Bisa saja ia merupakan “teknologi primitif-primitif, rendah atau tinggi, atau antara teknologi primitif dan teknologi tinggi.
2. Ia harus sesuai dengan sumber dengan tujuan-tujuan ekonomi, sosial, kultural dan politiknya.
3. Secara environmental harus sehat
Pemilihan atas teknologi alternatif ini menurut Sharma dan Qureshi haruslah didasarkan pada dua kriteria, yakni sosial, ekonomi-kultural serta keamanan nasional dan prestise, dibawah kriteria yang pertama, teknologi-teknologi itu tampaknya harus diutamakan untuk yang padat karya, kecil, sederhana, serta yang menggunkan sumberdaya dan tenaga-tenaga terampil lokal untuk meminimalisasi anggaran. Sedangkan pada alternatif kedua yakni pada keamanan nasional dan prestise, tidak dilihat sebagai alternatif untuk bersaing dengan masyarakat-masyarakat industri dalam beberapa bidang teknologi yang besar dan kompleks dimana produksi masal sangat penting untuk memperoleh sasaran-sasaran politis dan keamanan strategis.
Permasalahan yang timbul kemudian, secara keseluruhan bahwa eksperimen-eksperimen teknologi alternatif telah menimbulkan kekecewaan, dimana kaitan antara teknologi dan masyarakat melalui dua cara, yakni; Pertama, terbukti bahwa satu-satunya teknologi yang benar-benar cocok untuk satu masyarakat adalah teknologi yang tumbuh dari masyarakat dan bisa berkembang tanpa bantuan luar apapun, sehingga lebih menjadi kreasi bumi dan hanya berkembang pada wilayah tertentu saja, dan Kedua, teknologi alternatif tidak bisa dikembangkan dari kerangka filsafat dan intelektual peradaban Barat. Sebagai contoh jika teknologi alternatif akan mereduksi produktifitas pada urutan determinan kedua, maka ilmu ekonomi Barat yang melihat konsumsi sebagai tujuan kegiatannya, harus diganti pula dengan suatu alternatif yang lebih jelas.
Hal terpenting yang harus disadari adalah tidak ada yang mampu menggoyahkan independensi teknologis, dan tidak mudah membendung serangan gencar dari gaya dan mode teknologi yang dominan. Meskipun solusi-solusi seketika hanya akan menunda apa yang tidak terelakkan dari pengaruh teknologi itu sendiri, dan berikutnya adalah bahwa kita harus memahami evolusi dan cara pemecahan masalah-masalah praktis ala muslim secara jelas dalam konteks yang lebih luas, yang tentunya tidak terpisahkan dari;
1. Upaya untuk menemukan kembali sains Islam
2. Mengembangkan ilmu ekonomi Islam yang viable (andal; dapat diandalkan)
3. Mengembangkan metodologi-metodologi kontemporer untuk studi tentang masyarakat dan kebudayaan muslim
Sebenarnya di dunia muslim cukup banyak terdapat keragaman teknologis yang bisa mengatasi setiap problem teknis, hanya saja ia harus dimobilisasi dan diberi tanggung jawabnya sendiri, sebagai prasyarat pokok bagi tumbuhnya evolusi teknologi muslim. Jika ini diterima maka akan menghasilkan momentumnnya sendiri serta akan menyebabkan terbukanya kewawasan baru.
Suatu hal yang harus disadari bahwa teknologi konvensional mendasarkan dirinya pada nilai-nilai Barat, dan bahwa implantasi (pencangkokkan)-nya di dunia muslim dalam bentuk apapun justru akan meningkatkan ketergantungan teknologis masyarakat-masyarakat muslim, dan akan dibelenggu oleh dominasi peradaban Barat.

D. Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan yang diungkapkan oleh Ziauddin Sardar sebagai salah satu tokoh pencetus ide tentang sebuah rekonstruksi peradaban muslim dalam menghadapi dominasi sains Barat mengungkapkan bahwa :
Sains Islam tidak semata-mata dilihat dari nilai itu sendiri melainkan tunduk pada matriks-matriks nilai-nilai abadi. Tidak seperti sains yang berkembang di Barat dimana cenderung tidak netral dan bebas nilai, dan berusaha mengembangkan imperialisme budaya, oleh karena itu itelektual dan kaum pemikir dikalangan Islam harus merumuskan paradigma sains Islam yang dapat mengungguli sains Barat dan tentunya berupaya mengembangkan nilai-nilai pandangan Islam dalam sains tersebut, dengan hanya semata-mata mencari keridhaan Allah Swt.
Selanjutunya alih-teknologi yang berkembang dari peradaban Barat yang kemudian dinikmati masyarakat Islam sendiri, tidak harus disikapi dengan pasif, namun harus dicarikan alternatif teknologi guna menjadi solusi terbaik bagi pengembangan teknologi Islami, dimana masyarakat muslim harus mampu berperan banyak didalamnya dan tidak hanya sebagai penikmat teknologi.










DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Husaini, Waqar., Islamic Enviromental Systems Engineering, London, McMilalan,1980, Buku ini sudah diterjemahkan dengan judul Sistim Pembinaan Masyarakat Islam, Bandung, Pustaka,1983.

Bakar, Osman., Tawhid and Science; Essays on the History and Philosophy for Islamic Science, Terj. Yuliani Liputo, Cet. II, Bandung, Pustaka Hidayah,1995.

Muhammad an-Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur,1979; Peper ini pertama kali diajukan dalam Konfrensi Internasional Pertama tentang Pendidikan Muslim, Mekkah,31 Maret – 8 April 1977.

Sardar, Ziaudiin., Jihad Intelektual; Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam, Terj. AE. Priyono, Surabaya, Risalah Gusti, 1998,h.61

----------, Redirecting Science towards Islam; An Examination of Islamic and Western Approaches to Knowledge and Values, Terj. AE. Priyono, Hamdard Islamicus, Vol.IX/No.1/Musim Semi 1986.

----------, The Need for Islamic Science, Terj. AE. Priyono, Afkar Inquiry,Juli,1984

Sharma K. D., dan. Qureshi M. A., (eds), Science, Technology and Society, Delhi, Sterling Publisher,1978







[1] Diterjemahkan dari The Need for Islamic Science, Afkar Inquiry,Juli,1984,hlm.47-48
[2] Ziaudiin Sardar, Jihad Intelektual; Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam, Terj. AE. Priyono, Surabaya, Risalah Gusti, 1998,h.61
[3] Osman Bakar, Tawhid and Science; Essays on the History and Philosophy for Islamic Science, Terj. Yuliani Liputo, Cet. II, Bandung, Pustaka Hidayah,1995,h.10-11
[4] Diterjemahkan dari ”Redirecting Science towards Islam; An Examination of Islamic and Western Approaches to Knowledge and Values, Hamdard Islamicus, Vol.IX/No.1/Musim Semi 1986,hlm.24-24
[5] Sekedar gambaran bahwa Secara sederhana yang dimaksud dengan revolusi ilmiah oleh Khun adalah segala perkembagan nonkomulatif dimana paradigma yang terlebih dahulu ada (=lama) diganti dengan tak terdamaikan lagi, keseluruhan ataupun sebagian, dengan yang baru.
[6] Lihat Thomas S Khun, The Structure Knowledge, Oxford university Press, London,1992
[7] Lihat, Muhammad an-Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur,1979; Peper ini pertama kali diajukan dalam Konfrensi Internasional Pertama tentang Pendidikan Muslim, Mekkah,31 Maret – 8 April 1977.
[8] Diterjemahkan dari Hamdard Islamicus,1986 (?)
[9] Waqar Ahmad Husaini, Islamic Enviromental Systems Engineering, London, McMilalan,1980, Buku ini sudah diterjemahkan dengan judul Sistim Pembinaan Masyarakat Islam, Bandung, Pustaka,1983.
[10] Ibid., h.165. dan untuk rujukan pada buku terjemahannya pada hal.393
[11] K. D. Sharma dan M. A. Qureshi (eds), Science, Technology and Society, Delhi, Sterling Publisher,1978

KEHIDUPAN DAN KARYA MUH{YI< AD-DI
KEHIDUPAN DAN KARYA MUH{YI<> seorang tokoh sufi yang juga diberi gelar asy-Syaikh al-Akbar (Maha Guru), dilahirkan di Mursia, (Andalusia) Spanyol bagian tenggara pada 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M.
Beliau memulai pendidikan formalnya ketika berumur delapan tahun, dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan diantaranya Al-qur’an dan tafsirnya, hadith, fiqih, teologi dan filsafat skolastik. Hal inilah yang membawa beliau bertemu dengan filosuf yang beraliran Aristotelianisme seperti Ibn Rusyd, bahkan masih sempat mengajarkan al-Qur’an hadith dan fiqih kepada murid, muridnya seperti Ibn hazm azh-Zhahiri, dan Abu Bakar bin Khalaf.
Pada tahun-tahun berikutnya beliau hijrah ke Timur-tengah yakni Mekkah, kemudian masuk ke Romawi dan sempat mengembara ke berbagai wilayah di Timur, diantaranya Mesir, Syiria, Aljazair, Baghdad, Mosul dan Asia Kecil, dan bermukim di damaskus sampai beliau wafat dan dimakamkan di Shalihiyyah pada 22 Rabi‘uts-Tsani 638 H/November 1240 M.
Beliau telah memberikan sumbangsih yang tidak sedikit terhadap khazanah pengetahuan Islam dan termasuk penulis yang paling produktif dizamannya yang telah menghasilkan begitu banyak karya-karya ilmiah. Terdapat lebih dari empat ratus bahkan ada yang menyebutnya delapan ratus judul buku yang pernah dikarangnya, namun hanya sebagian kecil saja yang sampai ke tangan kita.

Diantara tulisan yang monumental dalam bidang tasawuf-falsafi adalah al-Futu>h{a>t al-Makkiyyah dan Fus{u>s{ al-H{ika>m, yang mulai disusun di Mekah pada tahun 598 H./1202 M. dan selesai di Damaskus pada tahun 629H/1231 M. menurut pengakuannya, kitab ini didikte oleh Tuhan melalui Malaikat yang menyampaikan ilham. Sementara itu kitab Fus{u>s{ al-H{ikam sekalipun relatif pendek namun tergolong karya yang paling banyak dibaca dan diberi syarah (penjelasan), karena memang paling sulit dipahami. Karya ini sepuluh tahun sebelum Ia wafat dan menurut pengakuannya karya ini juga diterimanya dari Nabi Muhammad Saw, yang memerintahkan agar menyebarkannya, agar umat manusia dapat mengambil manfaatnya
Disamping kedua kitab tersebut, Ia juga banyak menulis kitab yang jumlahnya tak terhitung misalnya, Masyahid al-Ashrar, al-Qudsiyyah, Muhadharat al Abrar wa Musamarat al-Akhyar, Kasyf al-Ma’na‘an Sirri Asma’illah al-Husna, ‘Anqa’ Mughrib, Raudhah Al-‘Asyiqin, Turjuman al-Msywaq, Insya’ ad-Dawa’ir, Syajaratul-Kaun, dan lain-lain. Karyanya juga yang tak kalah menarik adalah konsep Wahdat al-Wujud
Metode yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi> dalam menulis karyanya secara umum banyak diwarnai dengan metode penuturan simbolistik yang sulit diterka. Sehingga muncullah faktor fanatisme dikalangan sebagian ulama yang ortodoks yang kemudian membatasi ruang gerak perkembangan pemikiran Ibn al-‘Arabi> dan bahkan mereka menganggap sesat dan keluar dari Agama Islam.
B. Paham Pemikiran Ibn ‘Arabi>
Kontroversi pemikiran Ibn ‘Arabi> tentang wahdat al-wujud yang sering disalah pahami, sebenarnya bisa ditelusuri dari pengertian wujud itu sendiri. Kata wujud tidak hanya mempunyai pengertian “obyektif” tapi juga “subyektif”. dalam pengertian “obyektifnya” kata wujud adalah masdar dari kata wajida yang berarti “ditemukan”. Dalam pengertian ini kata wujud biasanya diterjhemahkan kedal;am bahasa Inggris dengan “being” atau “exixtence” dalam pengertian “subyektifnya” kata wujud adalah masdar dari kata wajada yang berarti “menemukan” dalam pengertian kedua ini, kata wujud diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “finding”.
Dengan pengertian “subyektif” kata wujud terletak aspek epistimologis dan pengertian “obyektifitasnya” terletak aspek ontologis. Dalam konsep wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi>, kedua aspek ini menyatu secara harmonis. Kesatuan kedua pengertian ini telihat jelas ketiak Ibn ‘Arabi> membicarakan wujud dalam hubungannya dengan Tuhan.
Pada satu aspek wujud realitas absolut, dan pada pihak lain wujud adalam “menemukan” Tuhan yang dialami oleh Tuhan sendiri dan pencari rohani. Orang-orang yang “menemukan” Tuhan dalam alam dan diri mereka sendiri disebut oleh Ibn ‘Arabi>, dengan ahl al-kasyf wa al-wujud (orang-orang yang menyingkap dan menemukan). Dimana berarti bahwa orang-orang yang mengalami penyingsingan tabir yang memisahkan mereka dari Tuhan hingga mereka menemukan Tuhan dalam alam dan dari mereka sendiri.
Dalam pengertian ini, Willian C. Chittick, mengungkapkan bahwa wujud secara praktis adalah syuhud (menyaksikan atau merenungkan). Wujud dan syuhud keduanya mempunyai pengertian obyektif dan subyektif. Konsep inilah yang selanjutnya akan menjadi kerangka Ibn ‘Arabi >dalam menjalankan paham wahdat al-wujud-nya.
Paham wahdat al-wujud ini terkait dengan persoalan Tuhan dan alam yang menurut Ibn ‘Arabi> adalah satu kesatuan, digambarkan bahwa hubungan kesatuan Tuhan dengan alam seperti kesatuan bayang-bayang dengan benda yang memancarkan bayang-bayang itu.
Dengan tamsil kesatuan bayang-bayang dengan dari memancarkannya, dapat dipahami bahwa alam selamanya bergantung kepada Tuhan, dan kendati keduanya mirip, alam tetap saja tidak sama martabatnya dengan Tuhan dan dengan tamsil kesatuan tubuh dengan ruh. Dapat dipahami bahwa alam selamanya berada dalam pengendalian Tuhan dan tidak pernah lepas atau terpisah darinya.
Untuk menyebutkan Tuhan dan alam, Ibn ‘Arabi> sering menggunakan istilah al-haqq-Allah sang pencipta, yang esa dan wajibul wujud- dan al-khalq –alam mahluk yang banyak, al-mauwjud dan al-mukminat. Persoalannya kemudian bagaimana hubungan antologis antara al-haqq dan al-khalq, antara Allah dan alam, antara sang pencipta dan ciptaannya, antara yang esa dan yang banyak, antara al-mauwjud dan al-maujud, antara wajibul al-wujud dan al-mukminat?

Ibn ‘Arabi> termasuk dalam kategori penulis yang sangat produktif sehingga buah hasil dari karya-karyanya, menurut Brockelmann, salah seorang Sarjana yang menghitung kira-kira 239 karya Ibn ‘Arabi> yang masih ada. Menurut Osunan Yahia dalam karya bibliografinya telah menyebutkan 846 judul dan menyimpulkan bahwa diantaranya hanya 700 judul yang asli, dan dari yang asli itu hanya 400 yang masih ada. Sedangkan Ibn ‘Arabi> sudah menyebutkan 289 judul tulisan dalam sebauh catatan yang ditulisnya tahun 632 H/1234 M. meskipun jumlah yang ditulisnya berbeda-beda, yang pantas dikagumi adalah produktifitasnya dalam berkarya sangat luar biasa.
Materi yang dibahas dalam karya-karyanya sanat inovatif, dimana mencakup metafisika, kosmologi, psikologi, ilmu-ilmu al-Qur’an dan hampir setiap lapangan pengetahuan lain, yang semua itu didekati dengan tujuan-tujuan untuk menjelaskan esoteriknya. Meskipun demikian dari sekian banyak karya-karyanya ada dua hal yang penting dan termashur yaitu al-Futu>h{a>t al-Makkiyyah yang diklaim oleh Ibn ‘Arabi> bahwa tulisan ini berupa ilham yang didiktekan Tuhan melalui malaikat. Sedangkan tulisan yang lainnya adalah Fus{u>s{ al-H{ika>m yang disebut-sebut diterimanya langsung dari Nabi Muhammad Saw, dan menyuruh agar disampaikannya kepada seluruh umat manusia agar dapat diambil manfaat darinya.
C. Wahdat al-Wujud
Wahdat al-Wujud berarti kesatuan wujud “unity of existence”, dimana faham ini merupakan kelanjutan dari paham hulul. Dalam pandangan wahdat al wujud, nasut yang ada dalam hulul dirubah oleh Ibn ‘Arabi> menjadi al-Khalq (makhluk) dan lahat menjadi al-Khalq (Tuhan). Al-Khalq dan Ilaq adalah dua aspek bagi segala sesuatu. Aspek yang lahirnya disebut Khalq, dan aspek bathinnya disebut al-Haqq. Kata-kata Khalq dan Haqq merupakan sinonim dari al-‘Ard (accident) dan Jauhar (Subtance) dan dari al-zahir dan bathin.
Menurut paham ini tiap-tiap yang wujud mempunyai dua aspek-aspek lahir yang merupakan sifat kemakhlukan dan aspek batin, dimana merupakan sifat ketuhanan atau dengan istilah lain tiap-tiap yang berwujud terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan.
IV. Komentar Para Pakar
Persoalan yang paling sering mengganggu para pakar tentang Ibn al-‘Arabi> adalah apakah Ia seorang Pantheis? Untuk itu dalam pemaparan paragraph-paragraf berikut ini akan dikemukakan komentar tentang Ibn ‘Arabi>.
Ibn al-‘Arabi> sering mendapatkan kritik yang tajam bahkan dituduh oleh kawan-lawannya sebagai penganut faham bahwa Tuhan identik dengan alam, paham yang disebut pantheisme atau monoisme. Diantara mereka yang paling menonjol adalah Ibn Taimiyyah (w.728 H/1328 M), Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w.750 H/1350M), al-Taftazani (w.791 H/1389 M), dan Ibrahim al-Biqa’i (w.885 H/1480 M).
Ibn Taimiyah misalnya menuduh Ibn ‘Arabi> berkeyakinan bahwa wujud hanya satu, wujud alam adalah wujud Allah, wujud makhluk adalah wujud khaliq, dan segala yang ada ini adalah pengejawantahannya.
Sementara sarjana muslim kontemporer lainnya menolak ajaran wahdat al-wujud adalah panteisme bahwa berarti Tuhan sama dengan makhluknya (alam), diantaranya adalah Sayyed Hossein Nasr, Mir Valiuddin, Sayyid Akbar Abbas Dizui dan termasuk juga Harun Nasution. Harun Nasution misalnya menyatakan bahwa istilah panteisme tidak tepat untuk menyebut filsafat wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi>.
V. Analisa
Ajaran wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi> yang terpenting adalah aspek al-Haqq yang merupakan esensi dari tiap-tiap yang wujud.
Menurut pandangan Ibn al-‘Arabi> bahwa alam ini diciptakan Tuhan dari ‘ain, sehingga apabila ingin melihat dirinya maka Tuhan cukup melihat alam ini yang pada hakekatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya. Hal ini dapat diibaratkan seperti orang yang melihat bayangannya dalam beberapa cermin, betapapun banyak bayangannya akan tetapi pada hakikatnya lain, sebab bayangan itu bukanlah substansinya.
Disamping ini ajaran ini telahmemadukan dua sisi imanensi Tuhan (tasybih) dan transendeni Tuhan (tanzih). Inilah pengetahuan yang benar tetang Tuhan menurut Ibn al-‘Arabi>.
Dengan pemahaman konsep tanzih dan tasybih tersebut maka paham wahdat al-wujud bisa dipahami dengan pengertian bahwa Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan yang disitu masih ada unsur penciptaan yang berarti ada khaliq (pencipta) dan khalq (makhluk). Dengan demikian menurut penulis, konsep wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi>, masih dalam ruang lingkup tauhid yang benar, karena masih adanya pengakuan adanya unsur penciptaan dan khalq (makhluk).
Dengan demikian menurut penulis, wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi> masih dalam ruang lingkup tauhid yang benar karena masih adanya pengakuan adanya unsure pencipta dan yang diciptakan.

Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Ibn ‘Arabi> adalah tokoh tasawuf yang kemunculannya membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan spiritual dan intelektual Islam terlepas dari prokontra terhadap konsep atau ajaran-ajaran yang dibawahnya.
2. Konsep wahdat al-wujud Ibn al-‘Arabi<>, tidak harus dipahami dalam satu tasbihnya saja, bahwa Tuhan berbeda sama sekali dengan alam, karena Dia adalah zat mutlak yang tidak terbatas diluar alam nisbi yang terbatas.

RESUME AL-TAFSI>R WA AL-MUFASSIRU>N, Muhammad Husein adz-Dzahabi

RESUME
AL-TAFSI>R WA AL-MUFASSIRU>N
Muhammad Husein adz-Dzahabi

Oleh : Ode Abdurrachman


Pandangan Umum Kitab Al-Tafsir wa Al-Mufassirun


Kitab ini pada dasarnya membicarakan tentang Tafsir dan Perkembangannya, yang secara detail mengupas berbagai metode yang ditempuh oleh para mufassir, berbagai corak tafsir yang dikenal di kalangan ulama salaf, juga corak-corak tafsir yang lahir di masa kontemporer. Yang menarik, kupasan tersebut dominan dalam bentuk bedah profil kitab dan pengarang tafsirnya sekaligus, yang diklasifikasi menurut masa dan corak tafsir yang dikembangkannya. Dilihat dari sisi ini, maka tidak salah bila kitab ini dikategorikan sebagai Kamus Tafsir.
Husein adz-Dzahabi menjelaskan bahwa motivasi dasar penulisan kitabnya adalah untuk mengingatkan kaum muslimin akan peradaban tafsir yang telah mewarnai dan memenuhi isi perpustakaan Islam, akan keanekaragaman madzhab dan corak tafsir, serta agar mereka mau mempelajari tafsir selain madzhabnya sendiri. garis besar, adz-Dzahabi sendiri mengklasifikasi kitab Tafsîr wa al-Mufassirûn menjadi tiga, yaitu Mukaddimah, Tiga Bab Pembahasan, dan Penutup, yang masing-masing memiliki sub-sub bahasan tersendiri.
Pokok pembahasan yang pertama dibagi menjadi:
1. Pengertian Tafsir dan Ta’wil, serta perbedaan antara keduanya;
2. Penafsiran al-Qur’an dengan tidak menggunakan bahasa Arab; dan
3. Polemik para ulama tentang Tafsir; Apakah tergolong Tashawwurat atau Tashdiqat?
Yang dimaksud Tiga Bab Pembahasan pada pokok pembahasan kedua adalah:
1. Pembahasan tentang Fase Pertama, yaitu perkembangan tafsir pada masa Nabi dan para sahabat;
2. Pembahasan tentang Fase Kedua, yaitu perkembangan tafsir pada masa tabi’in; dan
3. Pembahasan tentang Fase Ketiga, yaitu perkembangan tafsir pada masa penyusunan (modifikasi), yang dimulai dari zaman ‘Abbasiyah sampai zaman kontemporer (masa hidup adz-Dzahabi);
Adapun pokok pembahasan ketiga tentang beberapa corak tafsir yang berkembang pada masa kontemporer, secara ringkas diklasifikasi menjadi: Pertama, “Tafsir Ilmi”, yaitu tafsir berdasarkan pada pendekatan ilmiah; Kedua, “Tafsir Madzhabi”, yaitu tafsir berdasarkan madzhab teologi atau fiqh yang dianut oleh para mufassir; Ketiga, “Tafsir Ilhady”, yaitu tafsir yang menggunakan pendekatan menyimpang dari kelaziman ; Keempat, “Tafsir sastra-sosial”, yaitu tafsir yang menggunakan pendekatan sastra dan berpijak pada realitas sosial. (Keterangan ini dibuat berdasarkan Kata Pengantar penulis kitab at-Tafsir wa al-Mufassirun langsung).

Di dalam Mukadimah terdiri dari tiga pokok pembahasan yakni :
1. Makna tafsir dan ta’will serta perbedaan antara keduanya
Pengertian Tafsir
a. Menurut Bahasa
Tafsir menurut bahasa al-Idah wa Tabyin (menjelaskan) sebagaimana yang diterangkan didalam QS. Al-Furqan : 23
b. Menurut Istilah
Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hal ini dikalangan ulama, namun pada prisnipnya dapat disamakan pada satu pendapat yang saling melengkapi antar pendapat satu dengan yang lainnya. Menurut Abu Hayyan bahwa yang dimaksud dengan tafsir adalah ilmu yang menerangkan tata cara melafadzkan al-Qur’an, hokum dan dalalahnya dan kalimat tunggal dari kalimat majmu serta arti-arti yang terkait dengan sastra dan susunan al-Qur’an dan ishrat-ishrat Ilmiahnya.
Pengertian Ta’wil
a. Menurut Bahasa
Mengembalikan arti lafal kepada salah satu dari beberapa artinya yang beragam
b. Ta’wil menurut ulama salaf ada dua pendapat :
1. Ta’wil dalam arti yang luas, yaitu sama dengan tafsir yang menjelaskan maksud kandungan ayat baik sesuai dengan arti lahirnya ataupun menyalahinya.
2. Ta’wil dalam arti sempit yang terkandung dalam teks dan menjelaskan maksud kandungan teks ayat tersebut.
Perbedaan Tafsir dan Ta’wil
Ada beberapa perbedaan pendapat untuk menjelaskan antara tafsir dan ta’wil Abu Ubaidah yang dikutip dari al-Itqan oleh al-Zahabi berpendapat bahwa tafsir dan ta’wil memiliki satu arti (al-Itqan Jilid.2.h.173) sedangkan menurut al-Isfahani menjelaskan bahwa tafsir lebih umum dari ta’wil, tafsir banyak diperguakan pada lafaz-lafaz sedangkan ta’wil banyak dipergunakan pada makna.
2. Tafsir al-Qur’an dengan bahasa yang lain (terjemahannya)
Penafsiran al-Qur’an dengan bahasa yang lain menurut bahasa ada dua makna yakni yang pertama adalah pemindahan bahasa yang satu pada bahasa yang lain dengan tidak menjelaskan makna asal lafadz yang diterjemahkan kedua adalah menjelaskan kalimat/lafadz sekaligus menjelaskan maknanya dengan bahsa yang lain dengan demikian terjemah dapat dibagi pada dua bagian yakni terjemah harfiyah dan terjemah maknawiyah dan tafsiriyah.
3. Perbedaan para ulama tafsir dari segi t}asawwurat atau dari segi tasdiqa>t
Tafsir dalam prespektif tasawwur adalah penemuan dan penampakkan makna-makan lafadz al-Qur’an sebab di dalam ilmu bahasa Arab banyak membicarakan dan menyebutkan tentang lafadz-lafadz dan cara memahaminya. Sedangkan tafsir dalam prespektif tasdiqat adalah banyak membicarakan dan menyebutkan tentang lafadz-lafadz dan cara memahaminya. Sedangkan tafsir dalam prespektif tasdiqatadalah banyak membicarakan hukum yang terkandung dalam lafadz dengan hukum yang terkandung dalam lafadz tersebut dalam berfungsi pada makna dengan demikian tafsir itu hanya membicarakan hal-hal yang bersifat parsial.
Inti dalam Bab Pertama ini, banyak dibicarakan masalah-masalh tafsir dengan perspektif lain pada masa Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, dimana terdiri dari empat bagian :
1. Pemahaman Nabi Muhammad Saw dan para sahabat terhadap al-Qur’an dan terdapat juga sumber-sumber tafsir.
Pemahaman Rasulullah Saw, yang bersifat alami, terhadap al-Qur’an baik secara global atau terperinci lebih memudahkan legi beliau untuk menghafal dan menjelaskan isi dan kandungan al-Qur’an karena al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab.
2. Pendapat para mufasir dari kalangan sahabat
Para sahabat juga memahami al-Qur’an juga bersifat alami, namun terbatas pada zahir lafadz dan maklum yang terkandung di dalam lafadz tersebut. Ada beberapa pendapat terkait dengan pemahaman para sahabat pada makna al-Qur’an, perbedaan tersebut muncul karena faktor pengetahuan, kecerdasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh para sahabat terkait dengan ilmu kebahasaan yang berbeda-beda.
Sumber rujukan para sahabat terkait dengan ilmu kebahasaan yang berbeda-beda. Sumber rujukan para sahabat dalam penafsiran al-Qur’an diantaranya :
a. Al-Qur’an al-Qarim
b. Nabi Muhammad Saw.
c. Ijtihada dan kekuatan di dalam menghasilkan hukum
d. Ahl al-Kitab dari Yahudi dan Nasarni
Para mufasir dari Sahabat
a. Abdullah Ibn ‘Abbas
b. Abdullah Ibn Mas’ud
c. Ali Ibn Abi Thalib
d. Ubay Ibn Ka’ab
Menurut As-Suyuti dalam kitab al-Itqan menyebutkan bahwa diantara sahabat yang ahli tafsir yang terkenal adalah sebagai berikut; para khalifah rasyidin, Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubay Ibn Ka’ab, Zaid Ibn Thabit, Abu Musa al-Anshari, Abdullah Ibn Zubayr
3. Penilaian sahabat terhadap tafsir ma’thur
4. Urgensi dan signifikansi tafsir
Pada Bab kedua membahasa tafsir pada masa tabi’in, yang terdiri dari empat bagian :
1. Dalam Bab ini membahas sumber-sumber pada masa tabi’in dan pengajaran tafsir
2. Penilaian tabi’in terhadap tafsir di al-Ma’thu>r
3. Urgensi dan signifikansi tafsir
4. Perbedaan pendapat antara ulama salaf (tradisional) dengan ulama hBagian Bab Ketiga ini membahas masalah kodifikasi, metode dan kecenderungan tafsir yang dimulai dari masa Abbas sampai pada masa modern yang terdiri dari delapan bagian, yakni:
2. Metode tafsir bi al-Ma’thur dan tatacara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an
3. Metode tafsir bi al-Ra’yi dan apa-apa yang terkait dengan penafsiran
4. Urgensi kitab-kitab tafsir bi al-Ra’yi
5. Kitab-kitab tafsir bi al-Ra’yi yang cacat dan terdiri dari gologan ahli bid’ah, yaitu mu’thazilah, Imam kedua belas, Imam Ismailiyah, Babiyyah, Bahaiyah, Zaydiyah, Khawarij.
6. Tafsir Sufi
7. Tafsir Falsafi
8. Tafsir Fiqh
9. Tafsir ‘Ilm
Tafsir Masa Modern
Sebagai penutup al-Zahabi membahas aliran-aliran kecenderungan dan corak penafsiran di era modern ini, yang mencakup.
- Aliran Ilmi
- Aliran Mazhabi
- Aliran Ilhad
- Adabi al-Ijtima’i
Dengan kemajuan berbagai bidang yang cukup berarti bagi dunia Islam khususnya yang berkaitan dengan tafsir diabad ke-19 atau abad ke-15. dan sejak kekuasaan dipengang oleh khalifah rasyidin, kondisi sosio kultural umat Islam berkembang dalam kondisi yang berbeda dengan apa yang terjadi pada zaman Nabi Saw. Perkembangan dan perubahan itu berjalan terus seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman sampai pada abad 21, berbagai ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an sangat membutuhkan penafsiran ulang sehingga tuntutan itu sangat mendesak apalagi setelah bersentuhan dengan peradaban asing yang semakin intens, terlebih lagi dalam istilah corak penafsiran, Adabi Ijtima’i al-Qur’an dirasakan tidak lagi menyentuh urusan-urusan kemasyarakatan umat Islam sendiri, para mufassir modern menyadari bahwa tafsir pada hakekatnya mempertemukan teks al-Qur’an dengan konfisi zaman yang dihadapinya, sehingga diskursus para mufassir modern muncul hanya ingin membuktikan bahwa al-Qur’an benar-benar universal dan dapat menjawab tantangan zaman melalui pendekatan tafsir ilmi, mazhabi, iltihadi, dan Adabi Ijtima’i.

Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam

Eksistensi dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam
(Menelusuri Sejarah dan Perkembangannya Masa Abbasiyyah)

Oleh : Ode Abdurrachman



A. Pendahuluan
Sejarah panjang perkembangan pendidikan Islam, telah muncul seiring perkembangan Islam itu sendiri, dimana kehadirannya telah menanamkan nilai-nilai ajaran Islam, sekaligus memperbaiki perilaku masyarakat Arab pada saat itu.
Di awal perkembangan Islam, pola pendidikan yang ada berlangsung secara umum dan dapat dikatakan masih bersifat informal, dimana lebih berkaitan dengan upaya-upaya al-Daulah al-Islamiyah dalam penyebaran dakwah yang berisikan penanaman nilai-nilai ajaran keislaman, khususnya ibadah dimana biasanya banyak dilakukan di rumah-rumah yang dikenal dengan Da>r al-Arqa>m.
Seiring perkembangan Islam dan terbentuknya masyarakat Islam, masjid-masjidpun mengembangkan peranannya menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam yang dalam pelaksanaannya dikembangkan dalam bentuk halaqah (learning circle).
Ketika lembaga masjid sudah tidak memungkinkan lagi dapat menampung dan memfasilitasi para pelajar dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, maka muncullah masjid-khan, yakni masjid yang sudah dilengkapi dengan ‘iwa>n atau pemondokkan.
Dan pada masa-masa selanjutnya kemudian berkembang institusi yang lebih dikenal dengan madrasah yang lebih dianggap lembaga pendidikan Islam yang representative, bahkan menjadi trend hampir diseluruh kawasan Islam, sebagai cikal bakal lahirnya institusi pendidikan Islam modern. Madrasah yang dimaksudkan adalah lembaga keilmuan tinggi (the institutions of higher learning) dimana merupakan tonggak lahirnya jami’iah (perguruna tinggi/universitas)
Dalam sejarah Islam dikenal banyak sekali tempat yang menjadi pusat pendidikan, dengan jenis tingkatan dan sifatnya yang khas. Sayyed Hossein Nasr, mengklasifikasikan pusat-pusat pendidikan ini sebagai berikut; Masjid, Kuttab, Madrasah, Observatorium, Bi>ma>ritha>n, dan Kha>nqa>h.
Dalam makalah ini penulis mencoba memaparkan perkembangan pendidikan Islam di masa Abbasiyyah bertolak dari sejarah pendidikan Islam dan perkembangannya, dan perkembangan lembaga pendidikan Islam, serta tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.

B. Institusi Pendidikan Islam
Munculnya berbagai bentuk pendidikan Islam yang tersebar dan menjamur saat ini, tidak terlepas peran lembaga-lembaga pendidikan Islam pada masa kejayaan Islam (masa Rasulullah Saw, Al-Khulafa’, al-Rashidin, Bani Ummayah, Bani Abbasiyah), telah dikenal institusi pendidikan Islam, namun pelaksanaannya masih pada tempat yang sederhana. Lebih jauh lagi George Makdisi mengklasifikasikan institusi-institusi tersebut menjadi dua periode, yakni periode pra-madrasah dan periode pasca-madrasah.
1. Kuttab
Pada mulanya kuttab (maktab) berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak, namun ketika ajaran Islam mulai berkembang, pelajaran ditekankan pada penghafalan al-Qur’an. Menurut catatan sejarah, kuttab sebenarnya telah ada di negari Arab sejak masa pra-Islam, walau belum begitu dikenal dan baru berkembang pesat setelah periode bani Ummayah, namun seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam, jumlah pemeluk Islampun semakin bertambah. Hal ini menuntut dikembangkannya kuttab yang ada untuk mengimbangi laju pendidikan yang begitu pesat. Pada perkembangan selanjutnya, selain kuttab-kuttab yang ada di masjid, terdapat pula kuttab-kuttab umum yang berbentuk madrasah, yakni telah mempergunakan gedung sendiri dan mampu menampung ribuan murid.
Kuttab jenis ini mulai berkembang karena adanya pengajaran khusus bagi anak-anak keluarga kerajaan, para pembesar, dan pegawai Istana. Dan diantaranya yang mengembagkan pengajaran secara khusus ini adalah Hajjaj bin Yusuf al-Saqafi (w.714) yang pada mulanya menjadi muaddib bagi anak-anak Sulayman bin Na’im, Wazir Abd al-malik bin Marwan.
2. Mana>zil al-‘Ulama>’ (Rumah Kediaman para Ulama>)
Bentuk pendidikan ini termasuk kategori tertua bahkan diklaim sudah lebih dulu ada sebelum munculnya halaqah di masjid Da>r al-Arqa>m, baik pada periode Makkah maupun Madinah. sebelum didirikannya untuk kegiatan belajar mengajar, berduyun-duyunlah pelajar-pelajar kaum muslimin ke rumah beliau dengan tujuan menimba ilmu sehingga fungsi rumah sebagai tempat istirahat yang penuh dengan kedamaian dan nyaman sedikit demi sedikit telah tereduksi.
Sejarah mencatat juga bahwa, kediaman kediaman para ulama dan ahli ilmu pengetahuan yang pernah digunakan sebagai forum kajian ilmiah, diantaranya adalah rumah Ibn Sina, al-Ghazali, Ali Ibn Muhammad al-Fasihi, Ya’qub Ibn Kilis, Abu Sulayman al-Sijistani, dan masih banyak lagi.
3. Masjid dan Jami’
Ketika Rasulullah Saw, hijrah ke Madinah dengan semakin banyaknya pengikut Islam dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang perlu dikaji, fungsi awal rumah sebagai wahana pendidikan dialihkan ke masjid-masjid seperti masjid Nabawi dan Quba, dijadikan pusat bagi segala aktifitas pendidikan, kemasyarakatan kenegaraan dan keagamaan. Hal ini karena masjid dianggap sebagai institusi pendidikan yang merupakan instrumen yang pertama dan efektif untuk membantu transisi masyarakat Arab pada waktu, dari masyarakat primitif menjadi masyarakat yang lebih maju.
Pada perkembangan selanjutnya, hampir di setiap masjid menjadi tempat halaqah bahkan bisa jadi satu masjid menyelenggarakan beberapa halaqah. Dengan demikian fungsi masjid mulai berkembang bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan juga sebagai lembaga pendidikan dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan secara resmi. Kegiatan ini dilakukan semenjak khalifah Umar bin Khatab ra. dengan diangkatnya tenaga-tenaga pengajar bagi halaqah-halaqah di masjdi Kuffah, Basrah, dan Damaskus.
Masa kejayaan masjid sebagai pusat lembaga pendidikan Islam menurut ahli-ahli sejarah berkisar antara awal abad kedua sampai akhir abad ketiga Hijriyah. Dimana pada periode tersebut bertepatan dengan munculnya para ahli Hukum dan Teologi Islam terkemuka, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbali dan Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Syafi’i. disamping itu pada periode tersebut juga banyak dikenal ahli bahasa terkemuka seperti al-Khalil bin Ahmad, Al-Faralidi, Sibawayh, al-Jahiz dan lain-lain.
Gerorge Makdisi mengklasifikasikan masjid pada masa klasik menjadi dua tipe, yaitu masjid “harian” dimana ummat Islam menjalankan shalat lima waktu sehari-hari, dan tipe yang kedua adalah masjid Jami’, yakni khusus untuk pelaksanaan shalat jum’at, dan pada hari-hari yang lain masjid ini dijadikan sebagai institusi pendididikan. Masjid inilah yang disebut sebagai masjid-khan, dimana tersedia tempat menginap bagi para murid di sekita masjid.
4. Qusu>r (Pendidikan Rendah di Istana)
Pada tahap ini Pendidikan dikenalkan pada anak-anak di lingkungan Istana, dimana metode pendidikan dasar ini dirancang oleh orang tua murid (para Khalifah dan Pejabat) agar selaras dengan tujuannya dan sesuai dengan minat dan kemampuan anaknya, metode pembelajarannya pada garis besarnya sama dengan metode yang diterapkan pada anak-anak lain di kuttab-kuttab, hanya saja terkadang ditambah atau dikurangi menurut para pembesar yang bersangkutan dan sesuai dengan keinginan untuk menyiapkan anak mereka secara khusus untuk tanggungjawab yang akan dihadapinya dalam kehidupan yang akan datang. Para pengajarnya (muaddib) diberi tempat tinggal di Istana, selanjutnya mereka beralih dari siswa kuttab ke tingkat mahasiswanya di halaqah masjid atau madrasah.
Sistim pendidikan ini berlangsung dari daulah Amawiyah sampai Abbasiyah. Harun al-Rasyid tercatat sebagai khalifah yang memiliki metode pendidikan dan pembelajaran yang lebih baik (dari segi metode pembelajaran) bila dibandingkan dengan metode yang diberikan oleh wali murid yang lain.
5. Hawa>ni>t al-Wara>qi>n
Pada masa ini juga seiring berkembangnya ilmu pengetahuan maka telah bermunculan took-toko buku sebagai agen komersil dan sekaligus berfungsi sebagai center of learning. Ini berawal pada permulaan Daulah ‘Abbasiyah, yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai ibukota dan Negara-negara berbeda di negeri Islam.
Toko-toko tersebut telah menarik minat dan atenwsi para cendikiawan dan pujangga dari berbagai disiplin ilmu, selain itu para pemilik took-toko (warraqun) ada yang telah dapat menulsi kitab-kitab monumental dengan karya-karyanya, diantaranya Ibn al-Nadim (995 M) yang menulis Kita>b Fihrisa>t (Indent of Nadim), Ali bin Isa yang menulis bermacam-macam kitab, dan Yaqut al-Hammi yang menulis Mu’jam al-Udaba, dan Mu’jam al-Buldam.
6. Al-Sa>lu>na>t al-‘Adabiyyah (Majelis Sastra)
Lembaga ini sangat popular di masa bani Ummayah dan Abbasiyah dan merupakan pengembangan dari majelis-majelis al-Khulafa’ al-Rashidin. Khalifah yang merupakan pemimpin Negara tertinggi, selain mengurus masalah-masalah pemerintahan, juga memberikan fatwa-fatwa agama melalui forum masjid ataupun diluar masjid. Jika kemudian forum masjid ataupun diluar masjid kesulitan menemukan pemecahan persoalan yang dihadapi, beliau mengundang para sahabatnya untuk salingbertukar pikiran.
Forum ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, karena sering diadakan semacam perlombaan syairr dan perdebatan para fuqaha dan diskusi diantara para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga muncullah tokoh-tokoh yang aktif hadir dalam forum tersebut :
a. Dari Kalangan Penya’ir; Abu Nuwas, Abu al-Itahiyah Da’bal, Muslim Ibn al-Walid dan al-Abbas al-Ahnaf.
b. Dari kalangan musisi, Ibrahim al-Mawali dan anaknya bernama Ishaq.
c. Dari kalangan ahli Gramitaka; Abu ‘Ubaidah, al-Ismail al-Kisa’I, Ibn-Siman, al-Wa’iz dan al-Waraqid.
7. Maktabat (Perpustakaan)
Latar belakang pendirian perpustakaan ini diantaranya dikarenakan keterbatasan masyarakat yang tidak mampu menjangkau atau untuk memiliki kitab-kitab yang harganya mahal. Perpustakaan ini bersifat umum dan yang palin gterkenal dimasa nya diantaranya perpustakaan Iskandariyah dan Bait al-Hikmah (House of wisdom) pada masa daulah ‘Abbasiyah.
Pada perkembangan selanjutnya perputakaan tela menjadi salah satu pusat pendidikan dan kebudayaan Islam. Tetapi fumumnya fungsi dari perpustakaan ini bukan hanya sebagai tempat belajar nengajar sebagai suatu disiplin ilmu secara regular dan teratur, namun dipakai juga oleh ilmuan sebagai pusat researces akademik.
8. Al-Badiyah (Daerah Pedalaman)
Pada tahapan ini, banyak dari para pelajar yang sangat peduli akan orisinalitas kebahasaan mereka, dan memutuskan unutk pergi belajar bahasa ke ba’diyah (suku pedalaman/badui) bahkan banyak yang sampai menetap disana beberapa waktu demi pendalaman bahasa mereka.
9. Bi>ma>rista>n dan Mustashfaya>t
Bi>ma>rista>n dan Mustashfaya>t atau dikenal dengan lembaga rumah sakit, dimana pertama kali dibangun oleh Abu Za’bal pada tahun 1825 M di Mesir. Dalam institusi ini, selain sering digunakan sebagai tempat penyembuhan orang sakit, juga di gunkana sebagai pusat pengajaran ilmu kesehatan. Institusi ini dikemabangkan lagi pada masa pemerintahan Al-Walid Ibn Abd Malik pada tahun 88 M dimana institusi ini telah memainkan peranannya sangat besar dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam.
Proses yang dijalnkan didalamnya mengandalakan seorang ketua dari kalangan dokter yang memberikan kuliah pada mahasiswa kedokteran sekaligus memberikan ijin praktek bagi mereka yang telah menyelesaikan studinya serta telah menulis risalah (semacam tesis atau disertasi dalam dunia akademik sekarang ini). Dan pada tahap selanjutnya kemudian diberikanijazah oleh “professor” mereka. Pendidikan ini telah terorganisisr sedemikian rupa pada masa Abbasiyah.
Selanjutnya telah banyak dibangun rumah sakit besar dalam dunia Islam, baik oleh penguasa atau pihak swasta seperti rumah sakit mansuri di kairo atau rumah sakit Nuri yang dibangun pada abad 6 H/12 M yang merupakan rumah sakit terbesar yang pernah dibangundalam dunia Islam saat ini.
Selain itu pada pertengahan abad ke 8 M telah dibangun pula dua rumah sakit, pada masa kekuasaan al-Mutawwakkil Satu diantaranya dibangun oleh Harun Al-Rashid dan satunya oleh keluarga Barmakiyyah. Sebuah rumah sakit juga telah dibangun oleh Gubernur Fath Ibn Khan, dan yang lainnya seperti yang pernah dibangun oleh Ahmad Ibn Thulun sekitar tahun 868-905 M.

C. Madrasah dan Peranannya Dalam Pengembangan Keilmuan
1. Madrasah
Munculnya madrasah sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi, pasca lembaga pendidikan non formal pada masa-masa sebelumnya dikarenakan makin meluasnya daerah Islam serta berkembangnya ilmu pengetahuan yang mengakibatkan harus dipertimbangkannya lembaga-lembaga pendidikan tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak lagi dianggap mampu dan memadai untuk keberlangsungan pendidikan Islam, terutama kepada mereka yang hendak melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi.
Kata Madrasah berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat belajar siswa, sedangkan menurut terminologis adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama Islam secara formal dengan menggunkaan sarana belajar dan kurikulum dalam bentuk klasikal. Dari pengertian tersebut nampak bahwa institusi madrasah berbeda dengan institusi-institusi pendidikan Islam sebelumnya terutama dari aspek pengajaran.
Institusi Madrasah diduga merupakan prestasi abad ke-lima Hijriah. Al-Maqrizi mengatakan bahwa madrasah-madrasah yang muncul dalam Islam belum dikenal pada masa sahabat, maupun tabi’in melainkan sesuatu yang baru setelah 400 tahun sesudah Hijriah. Hal ini diperkuat oleh sejarawan seperti Georgi Makdisi dan Ahmad Shalabi, yang mengungkapkan bahwa madrasah untuk pertama kali didirikan oleh Wazir Nizam al-Mulk pada tahun 459 H. ditepi sungai Dajlah (Tigris) Baghdad yang kemudian dikenal dengan madrasah Nizamiyah. Dan akhirnya dikembangkan sapai di Balkh, Nishapur, Harrah, Asfahan, Bashrah, dan sekitarnya.
Peneliti sejarawan, Richard Bulliet juga mengungkapkan bahwa eksistensi madrasa-madrasah yang lebih tua ada di kawasan Nishapur, Iran pada sekitar tahun 400 H, juga terdapat madrasah di wilayah Persia yang berkembang sebelum madrasah Nizamiyah sedangkan madrasah yang tertua adalah madrasah Miyan Dahiya yang didirikan oleh Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad di Nishapur. Ini dibenarkan oleh sejarawan pendidikan Islam Naji Ma’ruf, bahwa di Khurasan telah berkembang Madrasah pada 165 tahun sebelum munculnya madrasah Nizamiyah.
Namun demikian harus diakui bahwa pengaruh madrasah Nizamiyah, ternyata melebihi pengaruh madrasah-madrasah sebelumnya. Bahkan Ahmad Shalabi, menganggap pendirian madrasah Nizamiyah sebagai pembatas untuk membedakan dengan pendidikan Islam di era sebelumnya. Hal ini dikarenakan pendidikan pada era madrasah Nizamiyah telah mempunyai ketentuan-ketentuan yang lebih jelas berkaitan dengan komponen-komponen pendidikan, dan juga keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan Madrasah, termasuk dalam menentukan tujuan-tujuan, menentukan kurikulum, menentukan Guru, sampai pada pemberian dana. Dimana keterlibatan pemerintah tersebut sangat erat kaitannya dengan tujuan pemerintah sehingga pendidikan merupakan bagian institusi pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa pendirian universitas-universitas di Barat merupakan hasil inspirasi dari pengaruh madrasah Nizamiyah. Demikian halnya George Makdisi, dalam beberapa tulisannya megatakan bahwa tradisi akademik saat ini secara historis banyak mengambil keuntungan dari tradisi madrasah.
Munculnya madrash Nizamiyah pada dasarnya merupakan reaksi terhadap berkembangnya faham Shi’ah pada waktu itu, sejak abad keempat. Faham ini nampak telah berkembang begitu pesat di banyak daerah Islam, yang dipromotori oleh dinasti Fatimiyah di Mesir. Mengingat bahwa untuk melawan Shi’ah tidak cukup dengan kekuatan senjata, melainkan juga melalui penanaman idiologi yang dapat melawan idiologi Shi’ah maka pendirian madrasah dipandang sangat mendesak sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tersebut.
Karena itu pendirian madrasah Nizamiyah mempunyai beberapa tujuan khusus diantaranya; pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Shi’ah. Kedua, menyiapkan guru-guru Sunni yang cukup untuk mengajarkan madhab Sunni dan menyebarkannya ke tempat-tempat lain, dan yang ketiga, membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintahan, memimpin kantor, khusunya di bidang peradilan dan manajemen.
Dari penjelasan diatas nampak bahwa pendirian madrasah Nizamiyah didasari oleh beberapa motivasi, baik motivasi keagaamaan, motifasi ekonomi dan motivasi politik.
Dari sudut keilmuan, keterlibatan pemerintah dalam madrash Nizamiyah sedikit banyak menggerakkan Madrasah hanya pada Ilmu yang mendukung atau madhab (Shafi’i). Madrasah hanya mengkonsentrasikan usahanya pada pengajaran al-Ulum al-Shari’ah dan al-Ulm al-Diniyah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dimana berarti mengabaikan ilmu-ilmu terapan yang praktis (al-Ilm al-Tarbiyah al-Amaliyah) seperti ilmu Kedokteran dan Falak, yang merupakan nilai negatif dari madrasha Nizamiyah.
Karena itu al-Mustanshir berupaya untuk meminimalisir kelemahan yang ada dengan mendirikan madasah baru yang menyediakan fasilitas serupa kepada tiga madhab ahl-Sunnah yang lain, dengan harapan akan terjadi persaingan baru dan kesinambungan diantara madhab-madhab Sunni, walaupun akhirnya nampak kurang berarti dikarenakan tidak adanya dialog yang intensif yang dapat menumbuhkan keluasaan wawasan dan saling pengertian antar madhab. Ide tersebut memang lebih ditujukan untuk memperoleh simpati yang lebih luas dari kalangan Sunni atau ulama fiqih ortodoks.
Islam telah mengenal pendidikan Islam secara sederhana sejak awal turunya wahyu kepada Rasulullah Saw, dalam misi dakwahnya dilakukan di ruma-rumah (Dar al-Arqam), dimana Beliau mengumpulkan para pengikutnya untuk diajarkan ayat-ayat al-Qur’an dalam rangka membentuk idiologi yang sesuai dengan ajaran Islam. Beliau juga telah mengadakan halaqah-halaqah dengan memberikan pelajaran yang berkaitan dengan aqidah (The New Faith).
Lebih lanjut kegiatan semacam ini juga dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in, bahkan kemudian pada masa berikutnya oleh para pembesar Istana, rumah dijadikan sebagai pusat tukar menukar informasi, komunikasi dan diskusi tentang berbagai persoalan keagamaan keilmuan, kebudayaan dan kenegaraan.
2. Peran Madrasah Dalam Pengembangan Keilmuan
Sejarah mencatat bahwa persoalan politik muncul lebih awal mendahului perkembangan pemikiran, karena itu persoalan politik menjadi menarik dan dianggap sebagai titik awal berkembangnya pemikiran dalam Islam.
Hal ini kiranya yang sempat mempengaruhi perkembangan pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan Islam pada masa-masa berikutnya, dimana dominasi politik sangat menentukan pada bentuk pendidikan dan corak keilmuan (sunni) yang dikembangkan dengan alasan-alasan politik.
Untuk mengkaji lebih lanjut mengenai tradisi keilmuan di madrasah, minimal ada tiga kesimpulan sementara yang perlu disoroti berkenan dengan hal tersebut. Pertama; keberadaan madrasah yang merupakan transformasi dari masjid, dan harus diakui bahwa pendidikan madrasah merupakan kelanjutan dari pendidikan masjid, karena madrasah masih menampakkan elemen-elemen masjid. Meskipun dengan menunjukan perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan, disamping itu madrasah dalam penyelenggaraan pendidikan telah mengarah pada sistim manajemen yang lebih professional.
Kedua, adanya pengaruh aliran-aliran keagamaan yang berkembang pada saat itu terhadap madrasah, hal ini dapat dicermati ketika kecenderungan Sunni telah membatasi kawasan keilmuan madrasah, sebagaimana dijelaskan diatas bahwa madrasah merupakan lembaga pendidikan Sunni yang nota benenya segala sesuatu yang diajarkan berkisar pada al-Ulm al-Naqliyah, hubungannya dengan tafsir, qira’at hadith dan Ushl al-Fiqh.
Atau dengan kata lain bahwa dalam hal ini madrasah merupakan al-‘Ulm al-Aqliyah, walaupun sebenarnya madrasah mengandung potensi rasionalitas yang semuanya dapat dilihat ketika diajarkannya kalam al-As’ariyah, pada madrasah Nizamiyah walau masih dengan menggunakan akal yang sangat terbatas dan dalam kadar yang kurang kuat untuk mendukung perkembangan ilmu.
Ketiga; adanya kepentingan-kepentigan politik yang dimasukkan dalam institusi madrasah, dalam hal ini pemerintah sangat berkepentingan untuk melibatkan diri dalam rangka mengikuti pola dan contoh pendidikan yang akan dikembangkan. Ajaran Sunni dalam hal ini yang pemerintah upayakan untuk menghadapi ajaran Shi’ah dianggap akan membahayakan eksistensi kepemerintahannya.


D. Latarbelakang Perkembangan Pendidikan Islam
Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi sehingga penyelenggaraan pendidikan Islam dari masa-kemasa terus berkembang, sehingga mendorong berkembangnya institusi-institusi pendidikan Islam yang lebih baik, diantaranya :
1. Kegiatan pendidikan yang awalnya dilaksanakan di lingkungan masjid telah mengganggu fungsi utama lembaga itu sebagai tempat ibadah, dan dikarenakan juga pertentangan-pertentangan antara tujuan pendidikan dan tujuan agama di dalam masjid hampir tidak memperoleh titik temu. Tujuan pendidikan menghendaki adanya aktifitas, sehingga menimbulkan hiruk-pikuk. Sementara beribadah di masjid menghendaki ketenangan dan kekhusyu’an ibadah.
2. Berkembangnya kebutuhan ilmiah sebagai akibat dari perekembangan ilmu pengetahuan dan lebih banyak ilmu lain, sehingga tidak selamanya bisa diajarkan di masjid.
3. Munculnya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan Islam dimana pelajaran yang diberikan di maktab-maktab, sekolah-sekolah, istana dan masjid, memiliki bererapa keterbatasan kurikulum, tidak memiliki guru-guru yang mampu di bidangnya, fasilitas fisik tidak mendukung bagi lingkungan pendidikan yang memadai.

E. Tokoh-tokoh yang Berperan Dibalik Kemajuan Pendidikan Islam di Masa Daulah Abbasiyah
1. Dalam Bidang Keagamaan
Munculnya paham-paham keagamaan seperti Jabariyah, Qadariyah, Asy’ariyah dan Maturidiyah, telah ikut menyuburkan semangat pencarian kebenaran dikalangan masyarakat muslim, sehingga mucullah tokoh-tokoh ilmu Kalam yang terkemuka seperti; al-Ghazali, (w.1111 M), Muhammad Abul Karim Syahrastani (w.1153M), dan Fakhruddin ar-Razi (w.1210 M).
Sedangkan dari kalangan hokum (fiqh) pada periode ini muncul aliran atau madhab yang menawarkan metode dan pendapat yang beragam, diantaranya; Imam Abu Hanifah (699-766 M), Imam Malik bin Anas (715-795 M), Imam Muhammad Idris as-Syafi’I (767-820 M), dan Imam Ahmad bi Hanbal (780-851 M). Selain itu juga dikenal Abu Yusuf (w.798 M) murid Imam Abu Hanifah, dan Dawud bin Khallaf (w.833 M) yang dikisahkan diperintah oleh Khalifah Harun al-Rasyid untuk menulis buku yang berhubungan dengan tasyri’, fiqih dan pemerintah yang diberi judul al-Kharaj.
2. Dalam Bidang Kedokteran
Dengan banyaknya kitab kedokteran yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab, maka bermuncullah dokter-dokter muslim yang terus-menerus mendalami dan mengembangkannya. Tokoh-tokoh yang paling berperan dalam bidang ini antara lain;
a. Muhammad bin Zakaria ar-Razi (w.925 M), yang berjasa dalam mengobati peyakit campak (small-pox) dan Cacar (measles) dan beliau juga menulis buku tentang berbagai penyakit dan cara pengobatannya dalam kaitab yang berjudul al-Hawi.
b. Ali Abbas (w.944 M) yang menyusun sebuah ensiklopedi kedokteran yang disebutnya Kitab al-Maliki dan kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Ingris dengan judul The Whole Medical Art.
c. Ibn Sina (w.1037 M), beliau menyusun buku kedokteran yang berjudul Al-Qanun fi at-Tibb (Canon of Medicine).
3. Dalam Bidang Sejarah
Bagian sejarah yang paling penting adalah riwayat Nabi Muhammad Saw, dimana sejarawan pada masa Abbasiyah mempelajari dan menulis tentang sejarah hidup Nabi Muhammad Saw (sirah), dan yang paling terkenal adalah yang pernah ditulis oleh Muhammad bin IShaq (w.767 M). tokoh-tokoh lain yang terkenal diantaranya :
a. Al-Waqidi (w.874 M), ia menulis tarikh al-Kabir, Kitab yang menuliskan peperangan dan penaklukan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.
b. Al-Baladuri (w.892 M), At-Tabari (923 M), Al-Mas’udi (w.928 M).
4. Dalam Bidang Filsafat.
Filosof-filosof muslim yang terkenal pada masa dinasti Abbasiyah diantaranya;
a. Al-Kindi (801-869 M), selain ahli filsafat, beliau juga ahli dalam bidang kimia, astrologi, optik, dan teoritikus musik. Beliau menulis buku dalam berbagai bidang.
b. Al-Farabi (670-950 M) di juluki aristoteles II yang menulsi dalam bidang psikologi, politik dan etafisika.
c. Ibn Sina (980-1039 M) dikenal dalam bidang psikologi, filologi, dan sya’ir
d. Al-Ghazali (1059-1111 M) atau Ibn Rush.
5. Matematika dan Astronomi
a. Al-Hajj bin Yusuf atas Perintah Khalifah al-Ma’mun menerjemahkan Megale Syntaxis, Karya Claudius Ptolemeaus tentang astronomi dan juga kitab Elements karya Euclides tentang matematika yang telah diterjemahkan pada masa khalifah Harun al-Rasyid.
b. Muhammad bin Ibrahim al-Fazari, menerjemahkan kitab astronom India berjudul Zij as-Sindhind (label astronomi) yang kemdian dipersembahkan kepada al-Manshur, kemudian Beliau menciptakan astrolabe, yakni alat untuk mengukur ketinggian bintang.
c. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, yang menyadur kitab matematik dan geografi, karya Claudius yang berjudul Hypogesis.
6. Kimia dan Fisika
Seorang daari Kuffah yang bernama, Jabir Ibn Hayyan menulis al-Kimia (Chemistry) dan Ia menemukan sejumlah persenyawaan unsur-unsur kimia.


DAFTAR PUSTAKA


Abd al-Majid Abd al-Futuh, al-Tarikh al-Siyashi wa al-Fikri, Al-Manshur Matabi al-Wafa,1988.
Abd. Al-Ghani ‘Ubud, Fi al-Tarbiyah al-Islamiyah, Mesir, Dar al-Fikr al-‘Arabi,1977.
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu,1999.

Anshari., Hafiz, et.al., Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Khilafah, Vol.2, Jakarta, PT. Ichtiar Baru Van Hoove, 2002.
Ali., K. A Study of Islamic History, Terj. Gufron A. Mas’adi, Jakarta, PT. RajaGrafindo Persada,2003.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jakarta, PT.Ichtiar Baru Van Hove,1999.
George Makdisi, Madrasa and University in The Middle Ages, Studi Islamica, 1970.
--------, The Rise o Collleges; Institutions of Learning in Islam and The West, Endinburgh, Endinburgh University Press, 1981.
Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam; Kajian Atas Lembaga Pendidikan, Bandung Mizan,1999.
Hisham Nashabe, MuslimEducational Institutions, Beirut, Librarie du Liban,1989.
Hossein Nasr., Sayyed, Science and Civilization in Islam, New York, New American Library, 1968.
Ma’luf., Louis, al- Matba’ah al-Katulikiyah, Beirut, 1927.
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Hidayakarya Agung, 1992.
Maksum., H., Madrasah; Sejarah dan Perkembagannya, Jakarta, Logos Wacana Ilmu,1999.
Nakosten., Mehdi, History of Islamic Origins of Western Education,Colorado, University of Colorado Press, 1989.
Nasution., Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid.I, Jakarta, UI Press, 1985.
Said Musa Ahmad, Tatawwur al-Fikr al-Tarbawi, Kairo, ‘Alam al-Kutub,1982,h.209
Shalabi., Ahmad, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, Cet.II, Kairo, Maktabah al-Arijilin, al-Misriyah,1960.
--------, Sejarah Kebudayaan Islam, Vol.3, Jakarta, Al-Husna Zikri,1997.
Sukarni Karya, et.al, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu,1996.
Tibi., Bussam, Islam and The Cultural Accommodation of Social Change, Terj. Clare Krojzl, Sanfransisco Westview,tt.

AL QUR’AN DAN PEMBUKUAN SERTA PEMBAKUANNYA

AL QUR’AN DAN PEMBUKUAN SERTA PEMBAKUANNYA

Oleh :ODE ABDURRACHMAN


Pendahuluan

Al Qur’a>n al-Karim adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kamjuan ilmu pengetahun. Ia diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw. untuk mengeluarkan manusia dari suasana gelap menuju yang terang, serta membimbing kejalan yang lurus.
Demikian juga hadith sebagai salah satu sumber hukum Islam dan merupakan produk budaya kehidupan Rasulullah Saw., yang mendukung kemurnian al Qur’an, dan bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan umat Islam.
Rasulullah Saw. menyampaikan Qur'an kepada sahabatnya -orang Arab asli- sehingga mereka memahaminya berdasarkan naluri dan bahasa mereka sehingga meskipun terjadi perbedaan pendapat tentang autensitas al Qur’an, ini lebih disebabkan karena kebutuhan akan nash yang asli dan tidak ditumpangi kepentingan-kepentingan individu ataupun kelompok yang akan memunculkan perpecahan disuatu saat nanti.
Dan inilah bukti bahwa al Qur’an menyimpan potensi yang sangat dahsyat dengan segala misteri dan kelebihannya dimana kehadirannya tak pernah berhenti dan menjadi pusat inspirasi bagi manusia untuk melakukan penafsiran dan pengembangan makna atas ayat-ayatnya, dan dapat dikatakan bahwa al Qur’an hingga kini masih menjadi teks inti (core tex) dalam peradaban Islam.









A. Tinjauan Umum Tentang Al Qur’an
1. Definisi Al Qur’an
Lafdz qur’a>n sama dengan qira>’at} yang menurut bahasa berarti menghimpun dan memadukan sebagian huruf-huruf dan kata-kata dengan bagian yang lainnya, dalam satu ucapan yang tersusun rapi. Qur’an pada mulanya seperti qira>’at, yaitu masdar (infinitif) dari kata qara’a, qira’atan, qur’anan. Seperti pada contoh makna ayat berikut :
Allah Berfirman :


“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (dalam dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apalagi kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaannya.” (Al-Qiyamah : 17-18)

Qur’anah disini berarti Qira’atuhu (bacaannya/cara membacanya). Jadi kata ini adalah masdar menurut wazn (tasrif, konjugasi) “fu’lan” dengan vokal “u” seperti “gufran” dan syukran. Kita dapat mengatakan qara’tuhu, qur’an, qira’atan, wa qur’anan, artinya sama saja. Disini maqru (apa yang dibaca) diberi nama

Friday, April 07, 2006

Ode Abdurrachman

PROFESIONALISASI ULAMA DALAM SISTIM PENDIDIKAN ISLAM


PROFESIONALISASI ULAMA DALAM SISTIM PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : ODE ABDURRACHMAN

Pendahuluan
Tradisi Intelektual yang dibangun pada masa klasik di masa Rasulullah telah begitu menentukan bentuk pemikiran Islam sehingga apa yang berkembang pada abad pertengahan lebih bersifat konservatif. Jika pada abad-abad sebelumnya bisa dirasakan pesatnya perkembangan pendidikan Islam yang ditandai dengan semangat mengkritik, polemik dalam bentuk karya tulis, munazarah dan pengajaran di madrasah, halqah di masjid-masjid dan perpustakaan, maka pada abad pertengahan ini mengalami kebekuan dan konservatisme dalam sistim pendidikan. Sehingga masa ini dikenal dengan masa taqlid, karena kegairahan berijtihad telah punah.1
Meskipun demikian, sebenarnya banyak sarjana-sarjana dan Ulama yang sesungguhnya melahirkan karya baru yang penting, sekalipun mereka kadang-kadang kurang menonjol. Sarjana-sarjana tersebut seringkali mengembangkan kreatifitasnya mereka di lingkungan istana-istana raja dan amir sehingga didukung sepenuhnya oleh penguasa. Maka disinilah lahir kegiatan budaya baru yang bisa dikatakan sebagai penyelamat dunia Islam dari kemandekan total dalam bidang budaya dan intelektual.
Aktifitas ini baru berkembang pesat pada abad pertengahan dimana telah dikenal adanya lembaga pengajaran berupa Madrasah,2 yang mana tempat melakukan kegiatan belajar dengan bimbingan instruktur atau mudarris yakni seorang yang bergelar professor (guru besar).
Tujuan utama dari seluruh bentuk pendidikan Islam ini adalah untuk mewariskan khazanah budaya dari satu generasi ke generasi beriktunya dengan harapan generasi tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya baik secara moral maupun secara intelektual.
Peran Ulama di Bidang Sosial Keagamaan
Ulama sering diartikan sebagai hakim, pengacara, saksi ahli dan pengabdi yang terkait dengan profesi hokum, dan juga pejabat di birokrasi negara. pemeriksa pasar, pengawas waqaf, dan bendahara negara. Mereka adalah elit profesional dan terpelajar dari kota besar tersebut, mereka terlibat dalam segala bidang urusan kemasyarakatan dimana memiliki kemampuan yang tidak secara terspesialisasi dan tidak dibeda-bedakan.3
Di abad pertengahan, kelompok ulama memegang peranan penting sebagai pemersatu masyarakat, antara satu wilyah dengan wilayah lainnya. Peran ulama mengalami pengembangan dari peran keulamaan yang murni dan sebagai elit keagamaan dengan fungsi yudisial menuju sebuah peran sosial yang luas dan elit politik.
Mereka mengurusi tugas-tugas yang berkenaan dengan pajak lokal, irigasi, urusan yudisial dan kepolisian, dan bahkan sebagian menjadi juru tulis dan pejabat. Bahkan dalam beberapa hal, ulama menjadi perwakilan yang efektif, bahkan dipercayai untuk menjalankan fungsi gubernur di dalam teritorial mereka masing-masing. Disamping itu ulama tidak sekedar berperan dalam bidang keagamaan, namun dalam pemerintahan dan elit sosial, dimana perannya dalam menjembatani lini horisontal dalam masyarakat Islam. Peran ulama ini, meliputi berbagai aspek kehidupan, diantaranya hukum agama, bisnis, administrasi hukum dan institusi pendidikan.4 Termasuk di dalamnya keluarga ulama terkemuka, dimana sering menjalankan perintah yang independen sebagaimana yang dilakukan pemimpin suku, tun-tuan tanah atau para Sultan bahkan gubernur militer saklipun.5
Dalam hal ini ulama tidak dianggap sebagai kelas sosial yang terpisah, melainkan kelompok yang tersebar ke seluruh bagian masyarakat dari golongan bawah sampai tingkat atas. Kedudukan ulama ini, tidak didasarkan atas pengangkatan mereka dari sejumlah pejabat, namun lebih bersifat personal yakni dalam bentuk ikatan yang sangat kuat antara guru agama dengan murid pengikutnya. Misalnya seorang imam yang dianggap mempunyai otoritas kesucian yang tinggi, maka secara aklamasi mendapat pengakuan dari masyarakat awam atau sejumlah ulama lainnya, selanjutnya dikukuhkan oleh pemerintah. Hal ini mengikatkan masyarakat untuk tunduh dan patuh kepada para ulama tersebut, dimana ikatan tersebut bukanlah sebuah struktur jabatan dalam institusi melainkan network yang berupa ikatan emosional dibawah komitmen umum, untuk menjunjug tinggi keluarga, komunitas keagamaan, dan umat sebagai ekspresi yang esensial dari sebuah tata sosial Islam.
Ulama juga diakui kapasitas keagamaannya dalam bentuk pengakuan resmi oleh penguasa sebagai pengurus masjid, Guru/Mudarris, Mufti dan Hakim, disamping memiliki hak-hak khusus dari penguasa untuk mengajar di masjid-masjid, sekolah-sekolah dasar (maktab) madrasah-madrasah sekaligus bertanggung jawab terhadap kualitas dan mutu pendidikan yang mereka jalani di masyarakat.6
Nakotsen menjelaskan bahwa ada enam tipe guru dalam pendidikan Islam diantaranya; Muallim, Muaddib, Mudarris,7 Syaikh, Ustadz, Imam, belum lagi termasuk guru-guru pribadi dan para muayyid (asisten guru-guru senior). Muallim biasanya untuk julukan guru-guru sekolah dasar, Muaddib arti harfiahnya orang yang beradab atau guru adab yakni guru-guru sekolah dasar menegah, Mudarris adalah julukan professional untuk seorang Mu’id atau asisten dan sama dengan asisten professor yang bertugas membantu mahasiswa menjelaskan hal-hal yang sulit mengenai kuliah yang diberikan profesornya. Syaikh adalah julukan khusus yang menggambarkan keunggulan akademis teologis. Imam adalah guru agama tertinggi.8
Pada perkembangan selanjutnya, ulama memiliki memiliki hubungan dekat dengan keluarga-keluarga pedangang, birokrat dan pejabat. Pengikut-pengikut mereka bisanya terdapat di beberapa tempat seperti di Masjid-masjid dan Madrasah yang terorganisir.
Pada abad pertengahan inilah, yakni pada masa Amawiyah, Abbasiyah dan ‘Uttomani, vitalitas intelektual tidak bertahan lama atau mengalami kehancuran dan stagnasi karena para ulama menjadi birokratis, terlembaga dan cenderung mementingkan diri sendiri, mereka semakin menjadi konservatif dan bersikukuh, cenderung mencegah perubahan dalam proses pendidikan melalui kendali mereka.
Sumber Pendapatan Ulama
Sumber pendapatan para ulama “Mudaris” dan Syaikh sendiri tentunya diperoleh dari hasil kegiatan akademis, meskipun menyangkut hal ini menjadi dilema sepanjang periode klasik, yang disebabkan boleh tidaknya seorang guru/ulama menerima bayaran dari muridnya. akan tetapi, terlepas dari persoalan ini, mereka menggantungkan diri secara finansial pada lembaga waqaf untuk memenuhi kebutuhannya.9
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa hampir semua para guru pada saat itu tergolong dalam masyarakat yang tingkat penghasilannya pada level menengah keatas,10 karena secara umum para guru yang sudah terkenal menerima imbalan labih dari usahanya, bahkan beberapa dari mereka jauh lebih mapan, meskipun sedikit bukti dari mereka yang memutuskan untuk menjadi guru dengan tujuan ekonomi.
Konon pemimpin sebuah masjid-akademi atau madrasah menerima bayaran antara 15 sampai dengan 60 dirham per bulan. Jabatan-jabatan yang lebih rendah dalam lembaga ini menerima gaji lebih kecil. Tapi perlu diketahui juga seorang ilmuwan bisa menjabat beberapa posisi di berbagai lembaga dan melipatgandakan penghasilannya.
Mereka yang mengajarkan fiqh dan ilmu-ilmu asing diperbolehkan memungut uang dari muridnya dengan ditentukan oleh guru dan murid dan dibayar pada awal masa belajar. Satu dirham per hari dianggap sebagai biaya pendidikan yang pantas dan beberap ilmuan menjadi lebih kaya dari pengahasilannya sebagai guru. Misalnya ada yang mencapai penghasilan sampai 100 dirham per bulan. Namun kasus ini sangat jarang. Karena uang bukan pertimbangan utama bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan. penjelasan yang yang lebih masuk akal atas usaha keras para ilmuwan sepanjang masa klasik-Islam, adalah penghormatan kepada para ilmuwan, disamping gaji yang diberikan.
Seorang menjadi “syaikh” pada lebih dari satu masjid dan ini meningkatkan penghasilannya sedangkan “mudarris” disamping sebagai tenaga pengajar dan administrator dari proses pendidikan pada masjid akademi. Jika keuangan memungkinkan masjid dapat menambah stafnya dengan mempekerjakan seorang asisten guru (na’ib), Juru ulang (mu’id) dan seorang tutor (mufid). Na’ib menggantikan “Mudarris” ketika sedang sibuk dengan urusan administrasi lembaga yang dipimpinnya. Mu’id dipercaya untuk mengulangi ceramah Mudarris kepada murid yang tidak memahaminya, atau tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Na’ib juga dipercayakan memberikan bantuan secara individual kepada murid-murid yang mendapat kesulitan.11
Dana yang diterima oleh masjid dan akademi yang diasuh para ulama, berbeda-beda sesuai dengan sumber-sumber yang tersedia, diantaranya juga berupa sumbangan dari bantuan berupa harta (waqaf). Hasil dari waqaf ini diperlukan untuk membiayai keperluan pengajaran dan untuk memberikan tunjangan kepada para pengajar.12 Penggunaan dana waqaf ini mengakibatkan perbedaan yang sangat mendasar antara madrasah dan masjid, dimana masjid dianggap milik umat secara keseluruhan. Adapun madrasah yang berasal dari waqaf dianggap bersifat personal sehingga masih dimungkinkan kontrol dan intervensi dari pemberi waqaf dengan adanya dana waqaf tersebut. Di lain pihak dengan adanya dana waqaf yang memadai, para mudarais professor dan syaikh dapat digaji secara professional atas tugas pengajaran yang dilakukan.13
Jatah Pensiun Ulama
Pemberian pensiun adalah bagian dari bentuk penghormatan kepada orang yang telah berjasa dalam bidang tertentu, dalam hal ini bagi kalangan ulama yang telah berjasa dalam dunia pendidikan. Sepanjang sejarah tercatat bahwa penghormatan ini diberikan kepada Mufti/Professor atau masyarakat terpelajar lainnya dan juga para mahasiswa.
Qadhi Abu Yusuf misalnya, murid dari Abu Hanifah yang pernah menerima sejumlah uang dari Khalifah Harun al-Rasyid, disamping itu Abu Yusuf juga menerima pensiun bulanan yang setara dengan gaji ahli hokum/professor. Disamping itu Al-Zajjaj sebagai ulama yang sangat dihormati oleh Khlifah al-Mu’tadid yang memerintah pada tahun 892-902 memberikan tiga macam pensiun kepada al-Zajjaj diantaranya, pensiun sebagai sahabat baik, pensiun sebagai Mufti/Profesor dan pensiun sebagai ulama. Sehingga total pensiun yang didapat kurang lebih menjadi 3000 dinar. Demikian juga bagi professor yang mengajar di Madrasah Nizamiyyah pada abad ke lima sampai kesebelas. Mereka mendapat gaji tambahan sebesar 10 dinar per bulan dan tidak termasuk dalam anggaran pengeluaran harta waqaf. Pengeluaran 10 dinar untuk gaji itu merupakan hasil keuntungan dari pengelolaan lembaga Madrasah Nizamiyyah tersebut.14
Berikut gambaran anggaran dana pengelolaan Universitas / Colleges di masa Islam Klasik.
Universitas Hukum Syafi’i Imadiya
No
Status / tingkat kedudukan
gaji/pendapatan rofesi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Mutawalli (wazir)
Profesor Hukum (Mudarris)
Mats
Minyak Lampu
Pengurus Universitas
Imam Masjid
Chief all souls / Syaikh (10 Syaikh)
100 dirham
60 dirham
300 dirham
24 dirham
100 dirham
40 dirham
masing-masing 20 dirham
2. Universitas Ilmu al-Qur’an dan Hadith Tankidziyah, didirikan t\pada tahun 728/1328 M. dengan rinciang anggaran sebagai berikut :
No
Status / tingkat kedudukan
gaji / pendapatan profesi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
Professor Ilmu al-Qur’an dan Imam (Syaikh al-Iqra’ Mashyakat al-Hadith dan Imama)
Professor ilmu hadith (Syaikh al-hadith, Masyhakat al-Hadith)
Mahasiswa ilmu al-Qur’an
Mahasiswa ilmu al-Hadith
Penjaga yang didatangkan
Muadzin (Muadhin, adhan)
Satpam (Bauwab, Biwaba)
Pengawas Keuangan
Penjaga Perpus
Pengawas Universitas
Bagian pemeliharaan
Bagian Administrasi Kantor
Dewan pengatur pembangunan dan Kontrak pengembangan universitas.
Mandor/Pengawas dalam kerja pembangunan universitas
Tukang batu bangunan
Deputy Mutawalli
Mutawalli (an-Nazir, an-Naza>r)
120 dirham
masing-masing 15 dirham
masing-masing 7,50 dirham
masing-masing 7,50 dirham
10 dirham
40 dirham
40 dirham
40 dirham
40 dirham
40 dirham
30 dirham
50 dirham
20 dirham
20 dirham
15 dirham
40 dirham
100 dirham
Analisis
Hal ini disebabkan karena meluasnya pengaruh dan masyarakat muslim, sehingga orang-orang yang memiliki kemampuan bisa memanfaatkan proses pendidikan sebagai cara memobilisasi masyarakat, sehingga banyak kelompok dalam masyarakat terbentuk melalui institusi pendidikan itu sendiri. Misalnya halqah, dan yang paling terkenal adalah mazhab fiqh.
Keberhasilan mereka menunjukan bahwa, meskipun masyarakat muslim abad pertengahan mempertahankan orientasi nilai tradisional dan keseimbangan internalnya, masa-masa keemasan mereka tidak akan bisa dipertahankan, karena pengendalian kehidupan intelektual bisa saja berhenti pada kelompok yang menolak perubahan dan inovasi. Sehingga Watt sendiri mengatakan bahwa perubahan yang terjadi di abad pertengahan dipengaruhi oleh pandangan statis pengetahun yang tidak bisa dipisahkan dari pemahaman Islam tentang dunia, dan keasyikan pemikiran intelektual dengan sistim filsafat yang diajarkan di universitas pada abad pertengahan (scholastic). Dan faktor lainnya adalah peran ulama dalam masyarakat, dimana ulama menjadi birokrat professional, dan akhirnya terfokus pada keinginan memperkaya diri sendiri sehingga hubungan mereka dengan elit penguasa menjadi kian tergantung dan akhirnya lemah.15 Dengan kata lain masa keemasan Islam pada abad pertengahan tidak bisa bertahan karena posisi intelektual (cendikiawan) dalam masyarakat yang bergantung pada penguasa.
Kesimpulan
(tak ada)
DAFTAR PUSTAKA
Syafiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan, Surabaya : Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM), 2002
Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Terj. Gufron A Mas’adi, Jakart: Raja Grafindo Persada, 2000
Joseph S. Szyliowics, Education and Modernization In Middle East, Ed. Ahmad Jainuri, Surabaya, Al-Ikhlas,2001
Nikki R. Keddie, Scholars, Sains and Sufis, London: University of London Press,1978
Mehdi Nakotsen, History of Islamic Origins in The Western Education,1964
Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam, Terj. H. Afandi dan Hasan Asari, Jakarta:Logos Publishing House,1994
Ahmad Shalaby, History of Muslim Education, Beirut, dar al-Kashaf,1954.
Afif Azhari, Lembaga Pendidikan Islam; Madrasah, Nizamia, Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel
W. M. Watt, Muslim Intelectually, Edinburgh:Edinburgh University Press,1963
1 Syafiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan, Surabaya : Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM), 2002, h.53.
2 Madrasah merupakan sebuah perguruan yang diorganisir secara formal, juga menyiapkan tempat tinggal bagi para Guru besar dan murid-muridnya (khan), dengan fasilitas Masjid, Perpustakaan baru baerkembang pada abad ke X – XI (Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Terj. Gufron A Mas’adi, Jakart: Raja Grafindo Persada, 2000,h.252.)
3 Ira M. Lapidus, Muslim Cities in the Later Middle Eastern Affairs, Cambridge: Havard University Press,h.108
4 Joseph S. Szyliowics, Education and Modernization In Middle East, Ed. Ahmad Jainuri, Surabaya, Al-Ikhlas,2001,h.104
5 Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Terj. Gufron A Mas’adi, h.270
6 Nikki R. Keddie, Scholars, Sains and Sufis, London: University of London Press,1978,h.33
7 Terdapat perbedaan istilah Mudarris dalam pandangan Mehdi Nakosten dan George Makdisi yakni. Istilah Mudarris bagi Nakotsen adalah kedudukan setingkat asisten professor (guru yunior) sedangkan dalam prespektif Makdisi “Mudarris” adalah kedudukan setingkat professor, terutama professor dalam bidang hukum.
8 Mehdi Nakotsen, History of Islamic Origins in The Western Education,1964,h.76-77
9 Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam, Terj. H. Afandi dan Hasan Asari, Jakarta:Logos Publishing House,1994,h.39
10 Ahmad Shalaby, History of Muslim Education, Beirut, dar al-Kashaf,1954.
11 Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi Dalam Islam, Terj. H. Afandi dan Hasan Asari, Jakarta:Logos Publishing House,1994,h.41
12 Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Terj. Gufron A Mas’adi,h.252
13 Afif Azhari, Lembaga Pendidikan Islam; Madrasah, Nizamia, Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel, h.25.
14 George Makdisi, The Rise of Colleges, Institution of Learning in Islam and The West, Endinburg, Endinburgh University Press,1981.h.163.
15 W. M. Watt, Muslim Intelectually, Edinburgh:Edinburgh University Press,1963,h.161.162.